Sabtu, 12 November 2022

BARISAN INTELEKTUAL versus BARISAN PECUNDANG


(Berdirilah teguh bersamaku meneladani para pendiri dan ulama dibarisan intelektual progresif) 


"Mari berdiri teguh, masuk dalam barisan ideologis, dan berafiliasi kuat dalam faksi intelektual. Jangan mau dikungkung dan dikerdilkan dalam kepentingan senioritas & politik sesaat. Pertarungan politik selalu melelahkan dan akhirnya membodohkan, karena energimu habis hanya untuk kekuasaan sesaat. Sebagai kader awal yang memulai proses harus ada energi yang kuat dan sibuk untuk membaca, diskusi, aksi, refleksi, menulis, dan sekian banyak kegiatan produktif. Ciptakan ruang produksi pengetahuan yang massif, konsisten, radikal, progresif. Semua dinamika ini adalah bagian dari proses. Maka, walaupun mereka sedang berada dalam barisan faksi politik oportunis & pragmatis, mereka tetaplah sahabatmu!. Sahabat - sahabat sekalian bersumpahlah bahwa: Aku tidak pernah tunduk pada kekuasaan, Aku hanya tunduk pada kebenaran" ! 


Sharing ide ini kami lakukan di ruang refleksi menjelang dini bersama sahabat (K....i dan K...n) berpotensi, namun terobang-ambing badai pertarungan politik sesaat yang menyesatkan dan membodohkan! Jika tidak punya prinsip dan pendirian yang kuat, niscaya akan menjadi kader yang tercecer, tersisih, dan terbuang! Berorganisasi itu tidak hanya bergerombol dan bekontestasi merebut kekuasaan dalam level apapun bung! Bersiaplah untuk berada di barisan yang menang tanpa jumawa, besar kepala dan membusungkan dada; Namun bersiaplah juga jika berada di barisan kalah tanpa depresi, menyakiti diri, dan kehilangan orientasi, apalagi berkhianat keluar dari PMII. 


Sahabat harus berontak jika dikungkung dan dikerdilkan. Seolah-olah dikader, dididik, dicarikan jaringan, dibuai mimpi tak jelas tentang kesuksesan. Yang ada sesungguhnya dikerdilkan, dibentuk pemikiran picik, dilarang bertemu senior tertentu. Jelas! ini bukan KADERISASI tetapi KOOPTASI. Yang fatal adalah bahwa barisan pragmatis dan picik tersebut dengan enteng tanpa beban memutus silaturahmi ke banyak orang dan menutup diri untuk berelasi dengan sekian banyak jaringan intelektual ideologis. Mereka merasa menang dengan berkuasa! namun sesungguhnya mereka orang yang kalah dalam memegang nilai. Ber-organisasi-lah dengan baik di PMII, yang didasari nilai, etika, moral, pengetahuan dan integritas, janganlah bergerombol di PMII seperti kawanan anjing berlari memangsa rusa, mulutnya berdarah dan berbau mimis hanya untuk urusan perut, atau preman perampok tanpa moral merangsek rumah dan menjarah isinya. Sahabat sekalian, mari junjung nilai yang terkandung dalam perisai PMII bukan menginjak-injak perisai PMII. 

Berorganisasilah di PMII dengan penuh dedikasi, jangan pernah memutus silaturahmi dengan siapapun, dimanapun, dan kapanpun. Aku, kita, kalian, sahabat-sahabat, dalam berproses itu perlu bereksistensi dalam pengetahuan, namun perlu nafas panjang dan daya tahan tanpa batas. Kesadaran kritis sahabat untuk berproses secara intelektual adalah tamparan keras pada diri sahabat sendiri. Segera mentas, keluar, dan lari sejauh mungkin, jika sahabat terseret atau diseret masuk dalam kubangan keruh hiruk pikuk pragmatisme dan aktivisme, jangan terserak dalam comberan politik oportunis yang memuakkan. 


Mulai saat ini dan seterusnya dewasalah dalam berorganisasi, hikmatlah dalam memegang nilai dan perisasi PMII. Camkan! Berorganisasi tanpa faksi! Maka, teruslah melakukan konsolidasi gagasan!  Berorganisasi tanpa kooptasi! Maka, teruslah belajar untuk berposisi egalitarian. Junjung setinggi-tingginya cita-cita dan visi perjuangan para pendiri Indonesia, para pendiri Nahdlatul Ulama, dan para pendiri PMII. 


Ambilah pelajaran dari ceritaku ini, 


Salam tadzim! 


Ruang Refleksi, 12/November/2022

Rabu, 26 Oktober 2022

Belum Cukup Iman Untuk jadi Atheis: Cerita pertama


Tulisan ini merupakan pengalaman subyektif saya, jadi jangan tersinggung dan jangan baper barang kali anda pernah mengintrogasi saya sebagai Mahasiswaa filsafat.

Saat pertamakali menyentuh form pendaftaran masuk kuliah, sama sekali tidak mengetahui prodi apa saja yang tersedia di kampus tersebut, namun optimis saja karena niatku adalah melanjutkan studi yang lebih tinggi, jadi saya akui saya tidak jelas tujuannya apa.

Singkat cerita, lantaran jurusa yang aku pilih adalah jurusan Aqidah dan Filsafat Islam, banyak pertanyaan aneh dari orang - orang yang ditujukan pada saya. Sejujurnya dengan pertanyaan aneh tersebut saya sudah kenyang.

Atas rasa kenyang itulah, saya merasa punya hak untuk memetakan pertanyaan-pertanyaan yang saya terima menjadi tiga tipe model pertanyaan. Tipe pertanyaan pertama, "Ambil jurusan apa? Hah... filsafat? Nanti kalau sudah lulus mau kerja apa?" Modyar. Itu pertanyaan standar dari bapak-bapak, ibu-ibu, mas-mas atau mbak-mbak yang tidak pernah bersentuhan dengan filsafat. Jawaban saya, ya, standar pula, karena tidak mungkin saya menceritakan sejarah filsafat dari zaman Yunani Klasik pra-Socrates sampai Postmodern, kan (lagian saya juga gak hafal sejarahnya).

Model pertanyaan kedua datang dari ruang lingkup akademis, katakanlah mahasiswa, yang memandang sebelah mata kuliah filsafat. Begini biasanya pertanyaannya, "Kak, gak mumet ya belajar filsafat?" Sebenarnya, kalau ditelusuri, pertanyaan ini timbul dari pengalaman buruk mereka saat masuk di kelas filsafat. Apalagi kalau mata kuliahnya ontologi. Mending kalau mata kuliah filsafat umum atau filsafat ilmu. Klaim mereka tentang kemumetan filsafat diawali dari paradigma bahwa filsafat tidak ada kaitannya dengan jurusan yang selama ini mereka tekuni.

Menghadapi jenis pertanyaan seperti ini, saya tidak akan menjawab dengan menjelaskan apa tujuan belajar filsafat. Tapi saya jawab dengan balik bertanya, "Belajar apa sih yang gak mumet?" Biasanya, mereka manggut-manggut tanda setuju. Iya... ya, namanya belajar pasti ya mumet, bukan hanya belajar filsafat thok.

Pertanyaan yang ketiga meningkat satu derajat lebih tinggi. Pertanyaan seperti ini berasal dari penilaian sepihak, generalisasi yang berlebihan, atau klaim yang tidak didasari pada fakta-data empiris yang kuat dan proses rasionalisasi yang mendalam. Pertanyaan adalah, "Kamu gak khawatir keblinger masuk jurusan filsafat?" hemm. Kalau menghadapi pertanyaan pertama dan kedua, saya masih bisa adem ayem, tapi yang ini? Hemm... sepertinya dari kepala saya sudah mulai muncul satu tanduk, macam badak bercula satu.

Orang-orang yang mengajukan pertanyaan seperti ini mungkin saja melihat beberapa teman mereka yang, maaf, tidak menjalankan ritual keagamaan dengan rajin atau alpa sama sekali.

Atas dasar itulah mereka mengkambing hitamkan filsafat. Dengan agak sinis saya menjawab "Temen saya anak fakultas Keislaman, gak pernah belajar filsafat juga gak shalat kok, gak puasa juga". Sambil menjawab begitu seraya membatin, "Saya anak filsafat, walaupun gak rajin tepat waktu, tapi gak pernah bolong-bolong".

Tiga model pertanyaan yang saya cantumkan di atas, bagi saya adalah konsekuensi logis atas pilihan saya. Mungkin bagi mereka, filsafat memang bukan hal yang sembarangan. Sembarangan dalam hal ini bukan dalam artian mewah atau wah, tapi lebih pada konotasi negatif. Filsafat dipandang sebagai sesuatu yang asing, menakutkan, tidak jelas, tidak ada gunanya, membuang tenaga, dan oleh karena itu, tidak perlu susah payah mempelajarinya.

Penilaian semacam ini datang dari mereka yang tidak mau membuka hati untuk filsafat. Kerumitan yang menempel pada filsafat mendukung pendapat mereka. Saya akui belajar filsafat memang rumit, tapi dalam kerumitan itu saya justru jatuh hati. Banyak teman saya yang tidak dari jurusan filsafat juga menyatakan hal yang demikian. Alergi pada filsafat ada pada tahap awal pengenalan. Tapi begitu seseorang masuk kedalamnya, memahami dan kemudian menemukan apa yang ada dalam filsafat, paling tidak, klaim-klaim negatif itu akan memudar. Karena urusan suka atau tidak suka terhadap suatu objek keilmuan itu subjektif, maka orang yang sudah memahami filsafat tidak lantas fanatik terhadapnya.

Untuk pertanyaan pertama, itu adalah pertanyaan yang sifatnya mekanistik dan menyangkut cara pandang umum masyarakat kita. Tentu tidak hanya tertuju pada anak jurusan filsafat, pertanyaan itu saya yakin akan ditujukan pada mahasiswa segala macam jurusan. Bagi masyarakat kita, tujuan kuliah, ya, untuk memperoleh pekerjaan yang mapan. Paling tidak berada pada naungan institusi pemerintahan. Ini jelas penderitaan bagi mahasiswa filsafat, lha wong memang selama ini tidak ada institusi khusus yang menampung mahasiswa jebolan filsafat.

Tapi saya pribadi tidak khawatir. Pada kenyataannya, pengangguran juga tidak hanya berasal dari alumni filsafat. Banyak dari alumni-alumni jurusan lain yang juga nganggur. Fakta tambahannya, teman-teman seangkatan saya juga tidak ada yang nganggur, kok, semuanya bekerja di jalan yang halal.

Jawaban untuk pertanyaan kedua dan ketiga bisa dijawab dengan filosofis. Pada level tertentu, berfilsafat bisa diartikan berpikir. Orang-orang yang mengklaim bahwa belajar filsafat itu mumet atau filsafat itu jadi membuat orang keblinger, tentu telah melakukan proses berpikir sebelum mengeluarkan statement tersebut.

Untuk merespon pertanyaan kedua, jauh-jauh hari saya sudah mengakui bahwa belajar filsafat itu memang mumet. Tapi kalau disuruh memilih, saya akan dengan senang hati memilih filsafat daripada belajar fisika, kimia, atau ilmu-ilmu eksakta yang lain. Jadi mumet itu bukan masalah subjek keilmuan tertentu, tapi tentang hal yang selama ini kita geluti.

Khusus pertanyaan ketiga yang mengklaim anak filsafat itu aneh-aneh, saya biasanya akan bertanya lebih lanjut mengenai dasar klaim itu. Masalah tidak shalat dan tidak puasa, saya akan menyatakan itu sama sekali bukan efek dari filsafat. Tapi karena orang malas saja, malas untuk beribadah. Saya rasa sebagian besar pernah merasakan malas untuk beribadah. Silahkan tanya pada diri sendiri kalau tidak percaya.

Bagi kalangan mahasiswa jurusan lain, klaim aneh-aneh mahasiwa filsafat itu didapat dari beberapa filsuf yang sebagian pernyataannya fenomenal. Saking fenomenalnya, pernyataan tersebut digunakan begitu saja tanpa diteliti sebab kemunculannya. Kita bisa menyebut misalnya Nietzsche dengan Tuhan telah mati, Karl Marx dengan Agama adalah candu, Auguste Comte yang mengatakan bahwa Agama hanya bahan bicaraan Abad Pertengahan atau kalau dalam Islam ada Ar-Razi yang menyatakan Nabi tidak perlu diturunkan. 

Pernyataan para tokoh itu yang menjadikan mereka merasa benar mengklaim filsasat perlu dijauhi. Memang, mereka benar dalam arti bahwa tokoh-tokoh yang saya sebut punya pendapat yang demikian. Namun, klaim ini sangat terbuka untuk dipertanyakan. Misalnya, sekali saja mereka bertanya, Apakah benar anak filsafat sebegitunya itu? Ini merupakan contoh pertanyaan lanjutan jika mereka tidak mau menyelami pemikiran para tokoh yang saya sebut tadi. Bersambung.....

Posko 1 P2M Aengbaja Kenek Bluto. 

Tuhan. Aku Ingin Pulang

 Ketika Lengah dan segala rasa payah mulai terasa, aku dan mungkin mereka teman - temanku merasakan lelahnya dalam menjalani suatu prasyarat lulus kuliah jenjang S1.


Disaat aku duduk tersungkur satu menit saja, pikiranku berkeliaran merefleksikan masa yang berlalu entah kemana arahnya sehingga menemukan titik kebingungan terus - menerus bahkan saat ini akupun bercerita lewat tulisan dalam keadaan bingung sama sekali.


Mengapa hal demikian seringkali terjadi pada saya? Saya memaklumi lantaran nasib saya sebatangkara dan tak punya apa - apa. Ilmu sedikit, keluarga tidak punya, bekal pun tak punya. Saya merenungi nasib yang setiap harinya serba numpang pada teman - teman di posko Praktek Pemberdayaan Masyarakat, yang disingkat P2M.


Sungguh kelucuan terbesar bagi saya pribadi, Sebagai anggota Praktek Pemberdayaan Masyarakat, mengapa tidak.? boro - boro memperdayakan masyarakat sementara nasib sendiri sedang tidak berdaya atau lebih tepatnya tidak baik - baik saja.


Hal demikian yang sering menjadi momok dalam aktivitas saya, sehingga bagi saya ini merupakan tantangan paling besar bagi saya. Sebagaimana rangkaian kata yang pernah aku baca, " tantangan terbesar dalam hidup adalah pikiran kita sendiri ".11


Kembali lagi pada tulisan ini dimulai, Aku ingin pulang!

Ya. Aku ingin pulang tapi entah pulang kemana? Aku sering kali setiap selesai shalat bermunajat kepada sang khaliq, namun di sisi lain pikiranku melayang ke arah nasib sebatangkara. Mungkin bagi kebanyakan orang memahami sebatangkara ialah tidak punya ibu dan bapak, tapi bagi saya, tak punya ibu dan bapak sekaligus tempat tinggal.


Dalam hati kecil saya berkata itu tak penting aku miliki juga rasanya tak mungkin aku bisa wujudkan diwaktu sekarang ini yang masih aktif dan fokus pada jenjang karirku, yaitu sebagai sarjana agama nantinya ketika selesai di wisuda oleh kampus tercinta Institud Disorat Islamiah Al - amien Prenduan.


Mangapa itu tidak penting? Karena aku masih diterima oleh banyak orang dimana ingin aku tinggal, selama saya masih punya bekal, apa itu? Akhlak yang baik bagi sesama serta pada alam sekitarnya.


Disini aku berubah tujuan pulang, Aku ingin pulang kepada Rahmat allah SWT yang sesungguhnya. Sebagaimana yang dinyatakan oleh Ibnu athaillah al - askandari. " Jangan bergantung pada amal perbuatan, tapi bergantunglah pada rahmatNya". Baginya adalah hakikat dimana kita benar - benar melihat tempat kita yang sesungguhnya.!


Kendati hal demikian adalah yang seharusnya kita tahu dan kita tuju, namun hati kita masih bagai cermin yang belum bisa pantulkan cahaya tuhan sebagaimana mestinya. Hati ini masih banyak percikan kotor yang menempel pada hati kita yang sekian hari kian bertambah sehingga hati ini tak dapat melihat sang khaliq, yaitu Allah SWT.

Senin, 19 September 2022

Rekonstruksi Pemikiran Teologi Islam : Pengantar terhadap Saripati Pemikiran Hassan Hanafi


Kalangan Akademisi menyebut "Ilmu kalam" yang telah menjadi darah - daging bagi mayoritas ummat Islam, Hassan Hanafi berpendapat bahwa pemikiran ilmu kalam tersebut memiliki titik kelemahan yang cukup mendasar, karena menurutnya tidak memiliki bukti secara "Ilmiah" maupun "filosofis".

Penjelasan tidak dapat dibuktikan secara ilmiah adalah bahwa metode teologi dinilai tidak mampu mengantarkan kepada keyakinan atau pengetahuan yang menyakinkan tentang Tuhan dan wujud-wujud spiritual lainnya, tetapi baru pada tahap mendekati keyakinan, yang dimaksud Hassan Hanafi tidak dapat dibuktika secara filosofis bahwa teologi lebih berisi ide-ide kosong dan melangit, bukan ide-ide konkret yang mampu membangkitkan dan menuntun umat dalam mengarungi kehidupan nyata sehingga teologi menjadi asing dari dirinya sendiri dan dari masyarakat. Faktanya, Doktrinasi teologi yang bersifat Dialektis cenderung tertuju pada ketahanan menjaga kemurnian yang bersifat teosentris, tanpa menduskusikan masalah - masalah yang berhubungan dengan watak sosial serta sejarah manusia yang bersifat antroposentris. Selain itu, Rumusan - rumusan teologi juga sering dipergunakan sebagai persembahan pada penguasa, yang dianggap sebagai wakil Tuhan di muka Bumi. Konsekuensinya adalah adanya kecenderungan untuk menjadikan alat legitimasi bagi Status quo dan bukan sebagai wahana pembebas dan penggerak manusia pada kemandirian dan kesadaran. Atas dasar inilah Hassan Hanafi menyatakan bahwa teologi Asy'ari menjadi penyebab kemunduran islam, di samping sufisme.

Dengan demikian pula secara praktis, Teologi tidak lagi sebagai pandangan hidup secara utuh, penyusunan rumusan Teologi tanpa dasar kesadaran murni serta nilai - nilai tindakan manusia, Sehingga melahirkan kepribadian ganda (split personality) antara keimanan teoritik dan keimanan praktis ummat islam yang pada akhirnya melahirkan nilai - nilai sikap ganda atau sinkretisme kepribadian. Menurut Hassan Hanafi, budaya sinkretis tersebut tampak jelas dengan adanya paham keagamaan dan sekularisme ( dalam aspek budaya ), Paham tradisional dan modern ( dalam aspek peradaban), paham Timur dan Barat ( dalam Politik), paham konservatisme dan proresivisme ( dalam sosial), serta paham kapitalisme dan sosialisme ( dalam aspek ekonomi).

Daftar Rujukan

  1. Pernyataan dan kritik terhadap teologi seperti ini sebelumnya pernah disampaikan oleh Al-Farabi (870-950 M) dan Al-Ghazali (1050–1111 M).
  2. A Khudori Soleh, Ilmu Kalam dalam Hierarkhi Keilmuan Perbandingan antara al-Farabi dan al-Ghazali (Yogyakarta: IAIN Sunan Kalijaga, 1997). Tesis tidak dipublikasikan.
  3. Hassan Hanafi, Agama, Ideologi, dan Pembangunan (Jakarta: P3M, 1991).
  4. AH. Ridwan, Reformasi Intelektual Islam (Yogyakarta: Ittaqa Press, 1998).
  5. Hassan Hanafi , Min al-Aqîdah ila al-Tsaurah, I (Kairo: Maktabah Matbuli, 1991).

Selasa, 06 September 2022

Menjadi Manusia Era Digital

Dunia saat ini telah berkembang sedemikian rupa yang banyak melibatkan peran teknologi di setiap aspek kehidupan kita, mulai dari digitalisasi hingga otomatisasi menjadi aspek kunci dalam kehidupan manusia pada hari-hari ini.

Pemikiran kita hari ini tidak jauh dari Industry 4.0, Artificial Intelligence (AI), Internet of Things (IoT), Big Data, Nanotechnology, Biotechnology dan lain lain. Revolusi digital tersebut akan banyak berdampak ke seluruh aspek kehidupan kita mulai dari bisnis, budaya, pemerintahan, akademik, maupun Individu di suatu masyarakat.

Kita tidak perlu masuk ke kantor Grab, Gojek, ataupun korporasi besar lainnya untuk melihat dan memastikan bahwa digitalisasi dan otomatisasi ternyata ada dan hidup bersama manusia itu sendiri. Ketika kita perhatikan, di seluruh dunia pun gejalanya sama, yang mana revolusi digital mempunyai peran yang sangat vital. Contoh yang paling mudah kita temukan, lihatlah keluar, lihat teman-temanmu, adek, keluarga di rumah, kamu bisa melihat dengan sadar bahwa setiap insan bisa terhubung secara maya dengan menggunakan gawai yang selalu dibawa kemana-mana.

Setiap insan bisa terhubung secara maya dengan menggunakan gawai yang selalu dibawa kemana-mana

Banyak pertanyaan kemudian mulai bermunculan, dari mulai apa itu teknologi? sampai bagaimanakah kita hidup di era digital? . Tulisan ini mencoba melihat hubungan ontologis antara manusia dengan teknologi yang disarikan dari pemikiran serta kritik oleh Martin Heidegger terhadap teknologi dalam essay yang berjudul “The Question Concerning Technology,”Heidegger, M.. The Question Concerning Technology, and Other Essays. HarperCollins, 2013. .

Heidegger merupakan salah satu filsuf yang sangat berpengaruh di abad 20. Teknologi menjadi bahasan penting dalam tulisannya, dan bagi Heidegger teknologi adalah kunci untuk kita dalam memahami waktu kita sekarang ini. Heidegger menolak pemisahan antara subjek dan objek, dan pemisahan dirimu dengan dunia, dan menolak bahwa manusia dan teknologi bukanlah dua entitas yang terpisah. Kita adalah teknologi itu sendiri. Sebelum memahami apa itu teknologi kita harus mengetahui Essense atau makna dari teknologi. What is the ‘Essense’ of Technology, then?

The “Essense” of Technology

“I’m not against technology. I’ve never spoken against technology, nor would I demonize technology. But I just only try to understand the nature of technology.” - Martin Heidegger

Martin Heidegger mencoba mendalami makna teknologi: Apa itu teknologi? Apa dampak yang dibuat pada abad ke-20 di kehidupan kita? Heidegger mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan ini dalam tulisannya. Dengan mengeksplorasi esensi atau makna dan mencoba mempertanyakan tentang keber-ada-an teknologi (being of technology).

Mungkin Martin Heidegger tidak tinggal di era digital seperti sekarang, tetapi Heidegger memberikan konsepsi fundamental tentang bagaimana kita menggunakan, melihat dan hidup bersama teknologi. Heidegger tidak pernah berkata bahwa dia menentang ataupun menganggap jelek teknologi. Dia pernah menjadi tentara nazi pada perang dunia kedua, dan melihat dan mengalami secara langsung bagaimana penggunaan teknologi bom atom bisa jadi sangat berbahaya pada masa itu.

Ketika kita berpikir tentang teknologi, kita jarang sekali berpikir tentang esensi dari teknologi tersebut. Biasanya kita hanya berpikir bagaimana teknologi itu memberikan dampak dan kegunaan bagi kita. Meskipun pertanyaan tersebut juga bukan pertanyaan yang buruk. Tetapi, di sini Heidegger mencoba mengajak kita melihat secara langsung essensi dari teknologi.

Mungkin kamu sedang membaca tulisan ini melalui layar komputer ataupun gawai, ketika ditanya tentang esensi dari teknologi kamu mungkin menggunakan gawai ataupun layar komputer. Itulah esensi dari teknologi. Tetapi wujud fisik (hardware) dari teknologi dan perangkatnya bukanlah teknologi itu sendiri. Dan bagi Heidegger, kita sebagai manusia sebenarnya buta terhadap teknologi.

“We will never experience our relationship to the essence of technology, so long as we merely represent and pursue the technological.” - Martin Heidegger

Terdapat common sense di masyarakat kita bahwa teknologi adalah sesuatu yang netral, sehingga ia tidak memiliki beban moral sama sekali. Heidegger menolak pandangan tersebut karena dia mengklaim bahwa teknologi memiliki semua jenis beban moral tersebut. Teknologi mengubah seluruh aspek kehidupan di masyarakat kita, dan tidak mungkin dengan begitu saja teknologi bisa menjadi alat yang netral.

Heidegger’s Claim

Analisa Heidegger terhadap teknologi di dalam The Question Concerning Technology terdiri dari tiga buah klaim.

1. Teknologi bukan sekedar Instrumen

Teknologi bukanlah sekedar instrumen belaka, yang menjadi sebuah alat yang netral tetapi teknologi merupakan cara kita dalam memahami dunia.

2. Teknologi bukan aktivitas manusia

Teknologi bukanlah aktivitas manusia semata, teknologi berkembang diluar kendali manusia dan hampir diluar pemahaman manusia sendiri.

3. Teknologi sangat berbahaya

Teknologi bisa menjadi alat yang sangat berbahaya bagi eksistensi manusia. Sehingga kita harus dengan hati-hati menggunakannya. Kita tidak bisa melihat dunia hanya dari satu sudut pandang teknologi saja, itu akan menjadi hal yang sangat beresiko dan berbahaya.

Modern Implication

Jika kita melihat sakarang, kita sering sekali mendengar berita-berita mengenai climate change , dan berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk memperbaiki alam yang telah dirusak. Ketika kita mempunyai pikiran bahwa, kita tidak sepatutnya cemas melihat 40-50 tahun lagi teknologi akan mempunyai kemampuan untuk menghandle masalah tersebut, kita ga perlu cemas sekarang.

Tetapi Heidegger kemudian bertanya, Bagaimana kamu bisa tahu?, bagaimana kamu tahu bahwa kita akan memiliki kemampuan teknologi untuk menghadapi masalah tersebut di 30-40 tahun berikutnya?

Manusia mengira dengan menggunakan teknologi segalanya akan mudah dikontrol, Justru sebaliknya, Teknologilah yang mengontrol manusia.

Kita jangan berharap terlalu berlebihan terhadap keadaan di masa depan, bisa jadi keadaan di masa depan menjadi lebih kompleks dari keadaan yang sedang kita alami sekarang.

Heidegger menunjukkan sikap kepada kita bahwa terdapat tanggung jawab yang besar tentang cara kita menggunakan teknologi saat ini. Sikap dan cara kita menggunakan teknologi adalah aspek kunci yang seharusnya kita perhatikan untuk bagaimana kita menjadi manusia di era digital sekarang ini.

Referensi

1: Heidegger, M.. The Question Concerning Technology, and Other Essays. HarperCollins, 2013.

Tentang Jatuh CInta

 Akhirnya Kubertarung dengan patah hati

SEBATAS PATAH HATI

Lantaran Cinta yang Harus dipilih

Karena mencirai adalah pilihan

kendati memiliki bukan suatu keharusan

disebabkan mecintaimu suatu ketak sengajaan

apakah mendambakanmu suatu keanjuran.

Haruskah sekarang kudengar kata orang

serta mencerna segala masukan

apa tidak terlambat untuk mengulang?

apa masih sempat menunda keputusan?

di depan kian banyak rintangan.

kurasa terlambat kini baru memulai

kurasa pula terlalu cepat dulu memutuskan.

namun dapak aku satu porsi kesempatan?

oh Tuhan, mengapa tak tahu sejak awal?

andai saat dulu tak semenyenangkan itu.

mungkin kini aku bersamaimu

bahkan mungkin jiwaku kau dekap erat olehmu.


teruntuk jiwa dan raga yang telah sua kembali,

kuhatur ribuan terimaksih

begitu pula pada jiwa - ragamu yang tak dapat kumiliki

semoga perlahan hatiku dapat terkunci kembali


AKU PAMIT

Mencintaimu adalah keputusan berat yang berani ku prioritaskan

Membuat kau tersenyum adalah keharusan yang sedang ku upayakan

Lalu, apakah keseriusan cintaku masih belum dapat kau rasakan?


Jika pengorbananku tak pernah kau hiraukan

Jika keberadaanku tak pernah kau harapkan

Mungkin harus kupertegas tentang aturan dalam suatu hubungan


Setia tak berbalas itu menyakitkan

Hubungan dua arah adalah suatu kemustahilan

Lalu, menurutmu haruskah aku berjuang sendirian?


Sungguh bodoh jika aku tetap bertahan

Membuang-buang waktu jika diam tanpa kepastian

Dan faktanya kamu adalah orang asing yang sempat kusemogakan.

Rabu, 31 Agustus 2022

TAK ADA POHON PISANG BERBUAH DUA KALI


Musim masih seperti biasa, berganti sesukanya saja. Menipu mereka yang suka menerka-nerka, dan membingungkan kepala-kepala kesepian, serta mengacaukan perempuan-perempuan tanpa kepastian.

Sementara Orang-orang yang kekurangan pekerjaan sepertiku hanya akan kembali bermain-main dengan kenangan di kepalanya, atau mengotak-atik lemari menemukan diary paling lucu yang pernah ditulis semasa sekolah dulu.

Setiap cerita akan terlewatkan, itulah baiknya orang sepertiku. Sebab semua yang terlewatkan bisa jadi kenangan, tanpa harus istimewa dan penuh kemewahan. 

Pada hembusan angin yang menyuguhkan udara pengap kota. Kali ini, aku hanya ingin mengisahkan satu peristiwa gila dalam hidupku.

Aku tulis bukan untuk dijadikan pelajaran, melainkan untuk ditertawai khusus bagi orang-orang yang telah lama kehilangan gembira dalam jiwanya.

Aku akan menulis tentang seorang perempuan kacau yang memikat. Sembari menulis dan membayangkan, membuatku kembali teringat kisah-kisah mengerikan dalam mitologi Yunani.

Seperti Echo yang jatuh cinta pada Narcissus, sementara Narcissus hanya mencintai dirinya sendiri. Walau Narcissus pada akhirnya meninggal karena tenggelam akibat jatuh cinta pada bayangannya sendiri di air.

Kurang lebih seperti itu gambaran kisah yang akan aku ceritakan. Bermula dari perjalananku ke suatu daerah yang sangat tertata rapi. Dengan kota kecil yang bersih dengan kondisi sosial yang harmoni.

Berangkat dari rasa penasaran, aku ke sana. Dan benar aku menemui seorang perempuan yang memang sudah lama aku idam-idamkan.

Jin, adalah nama yang aku berikan padanya. Tidak seperti remaja pada umumnya, penuh kenekatan aku langsung mengajak dia kencan, bercinta dan saling memadu kasih.

Tanpa basa-basi, ia pun setuju untuk ketemu dan melanjutkan percakapan di salah satu penginapan di kota itu. Aku tahu rasa itu penting, dan aku sungguh punya perasaan mendalam terhadapnya, walau kusadari ia tak begitu tertarik melibatkan rasa dalam hubungan kami.

Sehingga kami terus berkomunikasi, ketemu dan membawaku pada pemahaman lebih dalam. Bahwa aku begitu larut dalam perasaanku terhadapnya, sementara ia tak pernah sedikitpun mencintaiku.

Aku merasakan bagaimana sosok perempuan cantik dengan postur tubuh layaknya gitar, seperti artis-artis papan atas yang setiap pekan muncul di televisi, melampiaskan dendamnya di masa lalu padaku di Plataran dengan penuh birahi.

Sebagai lelaki dengan segenap gejolak perasaan, aku menerima semua itu dengan penuh kegembiraan. Seolah kami menjadi sepasang takdir yang saling berbagi suka.

Walau selepas itu, ia akan kembali bersedih, atau pura-pura tersenyum sembari berucap “Semoga kekasih simpanan ku tidak tahu” harapnya parau.

Tetapi lama-lama ia akan berkabar lagi, seolah menjadikan kata rindu sebagai alat untuk kembali melampiaskan dendamnya padaku.

Di situlah aku banyak belajar tentang jejak masa lalu seseorang yang kelam bisa saja ditumpahkan di hari depan dengan orang yang berbeda tentunya.

Saat-saat ia mengecup bibirku lalu tersenyum lugas, aku menyaksikan kepuasan dan kelegaan yang dinampakkan di wajahnya.

Meski berat untuk mengakui diri ini sebagai wadah pelampiasan, sebab secara biologis aku juga menikmati keadaan itu, tanpa menampik jerita tangis dari belahan jiwaku yang benar-benar tulus.

Hingga pada suatu ketika hujan membawa kabar, entah kenapa kala itu hujan bukan sekedar membawa manusia pada kenangan semata, tetapi juga memberikan keterangan baru.

Perempuan tersebut tiba-tiba mengeluh lantaran perasaannya terabaikan, dan aku menyimpulkan ia baru merasakan apa yang aku rasakan. Sakitnya mencintai seseorang yang telah lama mencintai orang lain.

Tetapi aku tidak kalah, aku hanya lelah saja. aku terus berusaha bertindak profesional, memberikan semangat untuk tetap memperjuangkan apa-apa yang diinginkannya. Ia pasrah dan berakhir jengkel padaku, seolah aku adalah penyebab sehingga cintanya tidak terbalas.

Hingga ia terus memintaku untuk datang ke tempatnya, walau sangat berat dan penuh tantangan, aku memutuskan menjadi manusia yang bertanggung-jawab, aku hadir di hadapannya.

Dengan rasa gembira menunggunya di tempat biasa kami bercumbu, ia lama tidak datang. Lalu akhirnya ia memberi kabar kalau dirinya sedang sibuk dan tidak bisa menemui.

Aku menerima perlakuan itu sebagai kewajaran atas lelaki brengsek sepertiku. Demikian seterusnya, aku diminta datang dan mendapatkan perlakuan serupa, tidak kunjung ditemui dengan berbagai alasan yang pastinya tidak masuk akal.

Aku terus saja menerima hal itu sebagai ganjaran yang wajar. Hingga aku menyadari peristiwa itu sebagai pelampiasan dendam yang membuat dirinya sangat puas dan lumayan lega.

Singkatnya, sebagai lelaki yang tidak baik-baik saja. Pengorbanan adalah bagian perjalanan, sementara pengkhianatan adalah tantangan hidup sebelum rasa bosan membuat kita berhenti dari semua harapan.

Terakhir, perempuan itu mengirimkan padaku gambar setangkai mawar yang nampak sudah lama layu. Ia memberiku isyarat akan inginnya padaku yang sudah tidak bisa lagi diselamatkan.

Walau mati-matian aku berusaha mengembalikan bunga itu kembali mekar, mewangi dan indah, memupuk dengan berbagai macam nutrisi, merawat dan menaungi dari terik mentari, bahkan menyiramnya dengan keras oleh deru tangis dan air mata.

barangkali ada yang minat menanam benih tanpa buah? hubungi 0813-33191831

Minggu, 28 Agustus 2022

Filosofi Teras ! Kimyahussa'adah Era Kontemporer

 


Dalam buku berjudul Folosofi teras ini pada halaman 293, karya Hendry Manampiring.

“Jangan menyebut dirimu sendiri Seorang Filsuf atau mengembar-gemborkan teori yang kamu pelajari…karena domba tidak memuntahkan lagi rumput kepada sang gembala untuk memamerkan banyaknya rumput yang telah dimakannya; tetapi domba tersebut mencerna rumput di dalam tubuhnya, dan ia kemudian memproduksi susu dan bulu. Begitu juga, janganlah kamu memamerkan apa yang sudah kamu pelajari, tetapi tunjukannlah tindakan nyata sesudah kamu mencernanya." ~ Epictetus (Enchiridion).

Sudah 2 tahun lamaanya saya berkenalan dengan Buku ini, sehingga dalam suatu diskusi sempat ada panggilan akrab saya yaiu Ulama Teras, selama kegiatan diskusi yang berlangsung lama tiga hari dalam rangka Pelatihan Kader Dasar (PKD) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII).

Pada kesempatan kali ini saya ingin menuntaskan niat bahwa habis baca ingin me-Review Isi Buku Filosofi teras tersebut, supaya dapat orang lain baca lantaran Review ini, kendatinya dalam Review ini masih dibilang sangat tidak sempurna paling tidak 25% mewakili isi buku ini.

Saya tidak memposisikan diri sebagai pereview dari buku ini, karena saya tahu saya tidak cukup kompeten untuk mereview sebuah tulisan yang maha luar biasa ini. Saya hanya akan mencoba menuangkan beberapa poin yang paling berpengaruh bagi saya setelah bergaul dengan buku ini. Tidak ada niatan sedikit pun untuk memamerkan apa yang telah saya pelajari dari buku ini, karena buku ini pun mengingatkan saya untuk hal demikian.

1. Dikotomi Kendali

Membicarakan Kebahagian, tentu ini harapan setiap orang, dengan cara dan upaya yang berbeda - beda. namun kenapa masih ada orang yang merasa tidak Bahagia, dimana yang salah?

Buku yang ditulis oleh penulis bernama Hendry Manampiring ini barangkali dapat membuka pemikiran pembaca sehingga menjadi terangnya cakrawala kebahagiaan kedepannya bahwa kebahagian erat kaitannya dengan kemampuan kita untuk memegang kendali terhadap perasaan itu sendiri. Artinya apa? Kitalah yang mempunyai peran untuk membuat diri kita bahagia. Jika kita ingin bahagia, maka fokuslah kepada hal yang ada di bawah kendali kita karena hal itu diproses oleh diri kita sendiri.

Dalam buku tersebut telah diberi contoh sangat Jelas bahwa dalam memperoleh kebahagian kita hanya perlu mengelolah dengan baik hal-hal yang telah dikategorikan masuk dalam “kendali kita”. Setelah kita mengetahui apa saja yang berada di bawah kendali kita, selanjutnya kita juga perlu menyadari bahwa ada beberapa hal yang tidak berada di bawah kendali kita.

jadi bisa dipatikan bahwa apa yang di luar kendali kita jangan terlalu diperhatikan karena hal itu hanya membuang waktu dan tenaga saja.

Dalam buku ini dengan jelas menuangkan bahwa tindakan orang lain, opini orang lain, reputasi/popularitas kita, kesehatan kita, kekayaan kita, kondisi kita saat lahir (jenis kelamin, orang tua, saudara-saudara, etnis, suku, kebangsaan, warna kulit, dll), serta segala sesuatu di luar pikiran dan tindakan kita, itu semua merupakan hal-hal yang berada tidak di bawah kendali kita. dalam bahasa anak jaman sekarang kita harus Bodo Amat !.

apa hubungannya dengan kebahagian?. begini sahabat, jika ada sesuatu yang tidak menyenangkan dan hal itu masuk dalam kategori tidak berada di bawah kendali kita, maka sebaiknya kita abaikan saja, karena toh hal itu tidak akan pernah bisa kita ubah. 

Kita tidak akan pernah bisa merubah opini orang lain terhadap kita, kita tidak akan pernah bisa menentukan bagaimana sebaiknya orang lain berperilaku kepada kita. Harta kita bisa hilang setiap saat, kondisi kesehatan kita bisa terganggu kapan pun.  Benar, kan?

Intinya adalah berhenti untuk mengharapkan segala sesuatu berjalan sesuai dengan keinginan kita karena akan ada banyak hal yang terjadi di luar keinginan kita dan jelas itu juga di luar kendali kita. Terima dengan ikhlas lalu kita akan berhenti merasa gelisah.

Itu aja dulu yaah... Saya Tahu Anda Males Baca hasil tulisan saya ! 

Kalau enggak,,,, Ok tunggu saja Review selanjutnya

Jumat, 22 Juli 2022

love and authenticity

metafora cinta jadi benci




 Artikel ini dipersembahkan untuk seseorang yang membakar hati penulis agar bisa berpikir lebih dalam tentang arti cinta dan hubungan.


    Berbicara soal cinta banyak pendapat yang semangat mendefinisikan, terlebih statusnya sebagai pujangga ulung. saya misalnya. tentu memiliki diksi indah penuh makna dalam mendefinisakan soal cinta tadi, bagi orang tua, cinta adalah tentang bagaimana merawat anaknya hingga dewasa. Bagi seorang tentara, cinta ialah perihal pengabdian terhadap negaranya hingga tuntas.


    Demikian dengan hal ini cinta dimaknai sebagai suatu ekspresi atas perasaan yang dirasakan individu terhadap liyan, maupun individu terhadap objek lainnya.

Cinta juga sering kali dipandang sebagai sesuatu yang membuat hati seseorang terluka - kata ia yang terluka. Berbagai macam ekspektasi dan andaian yang tak sesuai realitas, sering kali membuat makna cinta yang sesungguhnya menjadi keliru. Lebih mendasar lagi, bahkan mungkin memaknai relasi secara keliru dapat menjadi awal dari pemaknaan cinta yang keliru pula. 

Terkait dengan cinta, terdapat seorang filsuf eksistensialisme yang dikenal dengan nama Martin Buber. Ia adalah seorang filsuf kelahiran Wina, Austria, pada 8 Februari 1878. Pemikirannya banyak memengaruhi para pemikir lain pada zaman setelahnya, terutama pada pemikiran relasi dialogis yang akan penulis angkat dalam artikel ini. 

Martin Buber menulis pemikiran eksistensial yang benar-benar berbeda ketimbang eksistensialis lainnya. Pada karyanya yang berjudul Ich und Du, atau dalam Bahasa Inggris I and Thou, Buber menjelaskan mengenai konsep cara berada manusia. Di sinilah ia memberi pendasaran eksistensialisme yang terkait dengan pandangannya mengenai relasi dialog. 

Manusia dan Cara Beradanya

Menurut Buber, manusia memiliki dua cara berada. Keduanya berbeda bergantung pada kombinasi kata yang dipasangkan pada I sebagai manusia. Sehingga, terdapat dua cara berada, yaitu: I-Thou dan I-It. The one primary  word is the combination I-Thou; The other primary word is the combination I-It. Kata I-Thou maupun I-It bukanlah menunjukkan hal-hal, melainkan suatu relasi yang intim. 

I tidak dapat ditunjukkan atau berada dalam dirinya sendiri (There is no I taken in itself), melainkan harus dalam rangkaian relasi I-Thou atau I-It. Dalam hal ini, Buber ingin mengatakan bahwa manusia tidak mungkin berada terpisah dari dunianya, lingkungan pembentuknya (Dasein), bersama pula dengan orang lain, di mana manusia menjalin suatu relasi intim (being with others). Pada penjelasan berikutnya, manusia akan disebut sebagai aku atau I.

I and It

Aku selalu terikat dengan benda-benda. Aku menerima sesuatu, aku merasakan sesuatu lewat panca indera, membayangkan sesuatu, menginginkan, atau memikirkan sesuatu. Inilah yang disebut sebagai realitas benda-benda di dalam I and It. Benda-benda tersebut saling terikat satu dengan lainnya. Oleh karenanya ia ada. 

Pada I-It, aku mengetahui dunia lewat Erfahrung, suatu pengalaman yang merujuk pada benda-benda. Pengalaman adalah sebagai media bagi aku untuk mengalami benda-benda yang ada di sekitarku. Pengalaman adalah sesuatu yang membuat aku mengetahui benda-benda. Benda-benda adalah segala jenis benda apapun, tidak terkhusus pada suatu jenis tertentu. 

Benda-benda yang kita hadapi semisal telepon genggam, hewan, meja, kursi, dan lain-lain, merupakan dunia benda-benda. Keberadaan dari benda-benda ini semakin meneguhkan kebebasan manusia (aku). Di dalam relasi dengan benda-benda, kebebasan aku menjadi semakin berarti. Di sini, hanya manusia lah yang dapat mengendalikan benda-benda, dan bukan sebaliknya. 

Sehingga, ciri utama dalam relasi I-It ini adalah bersifat fungsional, di mana aku dapat menggunakan benda-benda di sekitar dengan kemauanku. Benda-benda yang ada di sekitar ktia memberi kemungkinan bagi kelancaran dalam menjalani hidup, tak terkecuali bagi relasi dalam I and Thou yang akan dijelaskan selanjutnya. 

Tentang Relasi I and Thou

Bagi Buber, relasi I and Thou (Aku dan Engkau) adalah suatu cara berada manusia dengan liyan melalui perjumpaan (Encounter). Di dalam relasi ini, aku dan engkau bukanlah sesuatu yang saling asing. Malahan, aku dan engkau adalah terikat lewat suatu relasi perjumpaan. Bagaimana maksudnya?

Pada relasi I-It, keterhubungan aku dan benda-benda ditunjukkan lewat bounding/ keterikatan. Di sini, hanya ada satu subjek, yakni aku yang mengendalikan objek-objek, benda-benda. Sehingga, aku mengikat benda-benda itu denganku. Sedangkan dalam I-Thou, aku dan engkau adalah sama, subjek yang berelasi. 

Keterikatan antara aku dan benda-benda berarti berusaha mengobjektifikasi benda-benda tersebut, menjadikan benda tersebut sebagai datum-datum, tanpa memperhatikan aspek lainnya. Sedangkan, aku dan engkau terlihat dalam suatu relasi perjumpaan, dimana aku tidak menilai engkau. 

Aku bertemu dengan engkau oleh karena rahmat; bukan sesuatu yang dicari. Engkau berjumpa dengan aku, dan aku secara langsung masuk ke dalam relasi di dalamnya. Engkau tidak mungkin mencari aku, dan begitu pula sebaliknya. Kita tidak pernah bertemu sebelumnya hingga akhirnya kita saling mengetahui.

Oleh karena pertemuan adalah sebuah kehidupan nyata dan sebuah rahmat, maka sudah sepantasnya aku mensyukurinya. Kehadiran wajah engkau sebagai representasi seluruh diri engkau adalah rahmat. Sehingga, penghargaan atas realitas engkau dalam hidup aku adalah perlu dan mutlak lewat hubungan yang timbal-balik dan melebur (fusion).

Buber menjelaskan bahwa dalam relasi I-Thou, tidak ada sistem ide-ide, pengetahuan, atau andaian tertentu. Relasi I-Thou merupakan suatu relasi langsung, tidak memiliki suatu tujuan apa pun. No aim, no lust, and no anticipation intervened between I and Thou. 

Keinginan-keinginan macam itu akan dengan sendirinya terungkap melalui penampakan dalam relasi dengan Thou. Oleh karenanya, I-Thou tidak mengandaikan suatu ekspektasi ketika berjumpa. Apa yang hadir bagi aku adalah engkau seutuhnya, bukan karena kecantikan, kepintaran, kekayaan, dan sebagainya.

Jika pada I-It relasi itu berjalan dengan suatu maksud tertentu, maka dalam I-Thou lebih bersifat timbal-balik dan fusion (melebur). Aku menyapa engkau dan engkau menanggapinya. Ketika suatu tanggapan dilakukan saat aku atau engkau menyapa, terjadilah suatu relasi yang timbal-balik. Dalam relasi yang timbal-balik ini, suatu relasi telah disyukuri. 

Relasi timbal-balik juga merupakan ciri dari suatu relasi dialogis. Suatu sapaan yang disampaikan aku, kemudian ditanggapi oleh engkau dan bermuara pada dialog-dialog, merupakan suatu bentuk relasi paling otentik. Lewat dialog, realitas internal aku ataupun engkau dapat diketahui. Aku dapat mengetahui engkau hanya oleh dialog di antara aku dan engkau. Ini lah yang dimaksud Buber sebagai relasi dialogis.

Puncak dari relasi perjumpaan-dialogis ini adalah suatu kesadaran bahwa pertemuan aku dengan engkau adalah suatu takdir. Keberadaan aku dan engkau adalah sesuatu yang sudah tetap. Aku dan engkau adalah pasangan yang harus ada, tak dapat dipisahkan. Kalau engkau tidak ada, aku pun demikian. Aku tidak akan pernah menjadi aku jika tidak ada engkau. Aku ada karena engkau ada dalam perjuangan hidupku. 

Tentang Cinta Sebagai Dasar Relasi Dialogis

Sebelumnya telah disinggung mengenai ciri khas relasi I-Thou, di mana adanya suatu timbal-balik dan suatu peleburan. Semuanya itu didasari oleh relasi cinta. 

Bagi Martin Buber, cinta bukanlah bagian dari feeling atau perasaan. Di dalam buku I and Thou, Buber memberi contoh bahwa perasaan Yesus terhadap orang jahat dan murid-muridnya adalah berbeda; namun cinta adalah satu. Di sini, secara sederhana Buber mengatakan bahwa cinta bukan sesuatu yang dirasakan sebagai suatu perasaan, melainkan didiami. 

Feelings are “entertained”: love comes to pass. Perasaan hanya ada di dalam aku/ manusia, namun manusia tinggal di dalam cinta. Buber mengatakan ini bukan sebagai suatu metafora, melainkan suatu kenyataan. Cinta bukanlah sesuatu yang melekat pada aku untuk mendapatkan engkau sebagai suatu objek. Namun, cinta adalah antara aku dan engkau.

Cinta adalah suatu kondisi yang didiami oleh aku bersama dengan engkau dalam suatu relasi. Di dalamnya, aku dan engkau saling bicara, melakukan hubungan timbal-balik dan saling melebur. Tinggal di dalam cinta dapat membawa suatu perubahan “baik” dalam hidup seseorang. In the eyes of him who takes his stand in love, and gazes out of it, men are cut free from their entanglement in bustling activity. 

Dalam relasi aku-engkau yang didasari oleh cinta, baik engkau ataupun aku akan dapat mengarah pada suatu perkembangan diri, kepenuhan potensialitas oleh karena akan ada “kesalingan” untuk membantu, menyembuhkan, mendidik, membangkitkan, serta menyelamatkan. Meminjam pernyataan Gabriel Marcel, cinta bermakna pula bersikap “disponibel” terhadap aku atau pun engkau. Oleh karenanya, cinta adalah tanggung jawab dari aku untuk engkau. 

Tinggal dalam cinta menjaga aku dari sebuah keterasingan eksistensi. Cinta membuat engkau ataupun aku untuk bertindak sebagai ekspresi saling menginginkan dan bukan saling membutuhkan. Tinggal dalam cinta juga bermakna mengalami cinta, bertindak di dalamnya. Oleh karenanya, relasi yang otentik hendaknya didasarkan pada cinta sebagai cara pandang baru untuk melihat dimensi liyan, engkau.

Cinta dan Otentisitas: Sebuah Kesimpulan

Cinta yang dimaksud oleh Buber adalah sesuatu yang membuat kita mampu bertindak untuk orang lain, suatu orientasi yang tidak egoistik, namun altruistik. Aku yang bertanggung jawab terhadap engkau adalah suatu tindakan yang benar-benar diarahkan terhadap engkau dalam realitas perjumpaan. Sehingga, cinta membuat aku maupun engkau berkembang dan menjadi semakin otentik di dalamnya. 

Memang, pandangan Buber mengenai konsep eksistensi manusia dan otentisitasnya berbeda dari para filsuf eksistensialisme lain. Buber menekankan bahwa eksistensi manusia benar-benar bergantung pada relasi-relasi, dengan dunia dan sesama, dalam I-It dan I-Thou. Keterhubungan dengan dunia dan sesama adalah penting bagi seorang manusia. Dengan itu ia eksis. 

Lantas, telah jelas bahwa dengan cinta seorang manusia dapat menjadi semakin otentik oleh karena ia berada dalam relasi, seperti yang dijelaskan Buber sebagai I-It dan I-Thou. Penekanannya adalah tiap manusia tidak dapat serta-merta egois dan individualistis dalam hidupnya. Ia masih membutuhkan sesama. Realitas perjumpaan adalah penting, karena: “All real living is meeting.”


Daftar Pustaka


Buber, Martin., I and Thou, (Terj.) Ronald Gregor Smith, (Edinburgh: T.&T. Clark).


Hia, Robeti.,  “Konsep Relasi Manusia Berdasarkan Pemikiran Martin Buber”, dalam Jurnal Melintas, Vol. 30, No. 3.


Prasetyono, Emanuel., Tema-Tema Eksistensialisme: Pengantar Menuju Eksistensialisme Dewasa Ini, (Surabaya: Unika Widya Mandala Surabaya, 2014)

Jumat, 17 Juni 2022

Inilah 3 Tanda-tanda Toxic People


Inilah 3 Tanda-tanda Toxic People



Belakangan ini istilah toxic people marak terdengar di telinga. Diksi toxic people atau orang beracun bukan bermakna sebenarnya. Sederhananya, dikutip dari Psychcentral, toxic people merupakan sebutan bagi orang-orang yang membawa pengaruh buruk (negatif) dalam kehidupan. Toxic people dapat dijumpai di segala lingkungan kehidupan, baik itu pertemanan, keluarga, hingga kerja. Lantas, bagaimana tanda-tanda toxic people ini?

Jika terdapat seseorang di kehidupan yang memberikan ketidaknyamanan, konflik, dan selalu membuat diri berada di posisi yang tidak dihargai, bisa jadi orang tersebut merupakan toxic people. Sebab, toxic people dapat membuat seorang individu merasa kurang berharga bahkan membuat berada di posisi meragukan diri sendiri.

Seringkali ungkapan toxic people digunakan untuk menggambarkan seseorang yang secara halus bersifat manipulatif, egois, atau perilaku-perilaku tidak menyenangkan lainnya terhadap orang lain. Berada di sekitar toxic people dapat menimbulkan stres dan kondisi yang menyakitkan, baik secara fisik maupun emosional.
berikut tanda-tanda toxic people:
1. Tidak konsisten


Setiap orang pasti pernah menghadapi kebimbangan ketika menentukan suatu keputusan. Tetapi, setelah melakukan proses pemikiran yang panjang, pilihan-pilihan tersebut dapat diputuskan tanpa rasa ragu. Namun, hal ini tidak berlaku bagi toxic people. Sebab mereka tidak akan pernah konsisten. Sebagian besar toxic people cenderung tidak pernah serius dengan komitmen atau janji. Ketidakkonsistenan ini justru bisa merugikan orang-orang disekitarnya.
2. Tidak menghargai orang lain


Meskipun terkesan sepele, sejatinya sikap menghargai adalah salah satu sikap dasar yang harus dimiliki ketika bersosialisasi dengan orang lain. Tetapi hal ini tidak berlaku bagi toxic people. Sebab, golongan toxic people cenderung mengabaikan orang lain dan tidak bisa menahan diri dengan memaksakan kehendaknya untuk kepentingannya sendiri.
3. Pandai memanipulasi


Toxic people suka memanipulasi orang-orang di sekitarnya untuk mendapatkan kepentingan atau tujuan mereka. Toxic people tidak sungkan untuk berbohong, menutupi kebenaran, atau melebih-lebihkan suatu hal dengan tujuan mendapatkan apa yang diinginkannya. Toxic people akan melakukan apa pun, bahkan menyakiti orang lain.

demikianlah 3 ciri manusia mengalami toxic people, semoga bermanfaat bagi andasekalian semua.

Senin, 07 Maret 2022

Sepenggal Kisah dan Luka

 

Siapa yang tahu semuanya akan seperti ini?

Kau yang banyak membuat cerita kini meninggalkan derita, kau yang memulai cinta kini tinggal cerita, kau merajut kini kau yang menghancur. 

Jikalau ku tahu,

Tak mau kubiarkan kau membuat cerita dalam hidupku, jika ku tahu tak mau kubiarkan rindu itu menumpuk dalam dadaku, jika ku tau,  tak mau ku biarkan cerita kelam bersampul kenangan manis yang kau tinggalkan untuk ku. 

Kau tak tahu,

Bagaimana aku membalut luka dengan senyuman, bagaimana aku merawat setia dalam sepi, bagaimana aku merawat percaya setelah diperdaya. 

Kau tak tahu itu kan!! 

Bagaimana aku berjuang, menunggu sementara kenyataan pahit menghujamku berkali-kali.

Hari-hariku berlalu dengan kesuraman tak berujung, tak dapat kubedakan mana cinta mana derita, mana yang tulus mana palsu. Semua kepalsuanmu terlihat tulus dimataku. 

Kau tak tahu, 

Bagaimana kekuatan cintamu merenggut kewarasanku, bagaimana kebodohan cinta menguasai diriku, bagaimana hariku tanpa jeda sedikit pun selalu memikirkanmu. 

Hingga saat ini,

Masih sering ku pikirkan, bagaimana aku pernah dengan sebodoh itu mencintaimu, pernah dengan segila itu menggilaimu,  pernah dengan sepolos itu melihat cintamu. 

Kau tak tahu itu kan!! 

Kau yang lebih banyak memberiku luka ketimbang cinta, kau yang  banyak memberi harapan dari pada tindakan, yang lebih  banyak meninggalkan dari pada membahagiakan, masih dengan sangat ku percaya.

Sementara,

Tangan yang datang membelai, ku tepiskan dengan angkuh. Angin rindu yang datang pun sekedar berhembus kemudian hilang diantara riuhnya pepohonan. 

Kau tentu masih ingat. Bagaimana aku memintamu untuk bertahan, bagaimana aku memintamu untuk tak pergi, memintamu untuk tetap disisi. 

Tapi kau memilih berlalu dengan cerita yang sudah baru.

Kau menepihku dengan alasan ketidakcocokan. Setelah sekian lamanya hubungan bertahan, mengapa baru sekarang ketidakcocokan baru kau bicarakan. Kau membuat semuanya terlihat mudah untuk ditinggalkan, membuat semuanya memang harus untuk dilupakan.

Kau berlabuh jauh,

Tanpa monoleh apa yang telah kau tinggalkan. Sementara sepasang mata memandangmu dengan air mata. Sepasang mata memandangmu dengan harapan untuk kembali. Ku hujani diriku dengan percaya bahwa kau akan kembali dan mengatakan " Kau merindukan ku. 

Ku gantungkan harapan itu setinggi mungkin, dan harus jatuh dengan harapanku  sendiri. 

Kejatuhanku membuatku sadar, harapan tetaplah hanya harapan. Tak akan pernah bisa kupaksakan menjadi kenyataan.

Kini setelah semuanya membaik,

Kau kembali dengan cerita luka yang menyayat hati, cerita rindu yang tak dapat ku mengerti, cerita komitmen untuk masa kini.

Benarkah demikian? Aku ragu tentang itu, setelah semua yang kau perbuat. 

Kau tentu sakit dengan sikapku saat ini. Tapi aku sosok lelaki yang pernah sakit dengan kepergianmu, pernah sakit dengan sikapmu, pernah sakit dimasa lalumu,  pernah sakit dengan semua tentangmu. 

Langit kamarku sesak dengan awan yang kuciptakan, bantal - bantal  dikamarku basah dengan terkurasnya banyak air mata,  dinding - dinding seolah menghakimiku. 

Kau tak tahu itu kan!! 

Dengan semua lukamu, sekarang dapat kau mengerti bagaimana harusnya menghargai orang yang tulus mencintaimu, orang yang bersedia tetap disisimu, dititik terendah sekalipun. 

Banyak lelaki bisa mencintaimu,  tapi tidak semua lelaki bisa tulus denganmu. Banyak lelaki bisa kau dapatkan, tapi tak semua lelaki bisa memahami kesulitanmu. Banyak yang bisa datang berbagi bahagia denganmu,  tapi tak semua lelaki bisa mengisi kekosonganmu.

Sekarang aku masih menikmati kesendirian, mencintai kebebasanku, menghargai diriku sendiri. Tanpa perlu melibatkan siapapun.  Termasuk kau! 

Aku tak mau lagi terlibat dengan cerita luka yang menyesakan dada,  cerita cinta yang menguras banyak air mata, dan juga menguras banyak tenaga. 

Seperti kataku "Masih kucintai kebebasan. 

Dan tentu saja kau tak ingin terluka bukan? Kau dan aku sosok yang pernah merasakan luka perihal cinta,  tentu tak ingin luka itu tertancap kembali.

Tak perlu berlarut dengan luka,  tak perlu terburu-buru untuk  memulai. Nikmati dulu kesendirianmu. Kesendirian tidak akan membunuhmu,  sepi tidak akan menghakimimu.

Semuanya akan membaik dengan berjalannya waktu.  

Kecuali,

Jika kau biarkan luka itu menjalar dalam dirimu, maka barangkali kau akan dibunuh oleh sepi dan kesendirian yang mencekam.

Aku tak menaruh dendam padamu. Hanya saja untuk memulai kembali, itu tak akan pernah terjadi.  Rasaku sudah tak lagi sama. 

Aku akan setia mengirimmu cerita menemani sepimu, cerita hangat yang membalut dinginmu, jika kau mau. 

Tapi tentu, hanya sebatas cerita. Keterlibatan ini tidak akan terjadi lebih jauh. 

Pergilah,

Simpanlah cerita ini  dalam peti hatimu, atau buang bersama derasnya arus selat masalembu. Jika rindu itu datang padamu hunuskan ia dengan sikapku yang menyakitimu, maka kau akan baik-baik saja. Rindu itu pun akan menghilang dengan sendirinya. 

Semesta akan merawatmu,  waktu akan membimbingmu.

Bila Mesin Berkuasa, Apalah Daya Manusia?

Sebagai kader Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia yang berupaya berfikir kritis dengan berbagai metode berfikir sesuai konteknya. Seperti C...