Dalam buku berjudul Folosofi teras ini pada halaman 293, karya Hendry Manampiring.
“Jangan menyebut dirimu sendiri Seorang Filsuf atau mengembar-gemborkan teori yang kamu pelajari…karena domba tidak memuntahkan lagi rumput kepada sang gembala untuk memamerkan banyaknya rumput yang telah dimakannya; tetapi domba tersebut mencerna rumput di dalam tubuhnya, dan ia kemudian memproduksi susu dan bulu. Begitu juga, janganlah kamu memamerkan apa yang sudah kamu pelajari, tetapi tunjukannlah tindakan nyata sesudah kamu mencernanya." ~ Epictetus (Enchiridion).
Sudah 2 tahun lamaanya saya berkenalan dengan Buku ini, sehingga dalam suatu diskusi sempat ada panggilan akrab saya yaiu Ulama Teras, selama kegiatan diskusi yang berlangsung lama tiga hari dalam rangka Pelatihan Kader Dasar (PKD) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII).
Pada kesempatan kali ini saya ingin menuntaskan niat bahwa habis baca ingin me-Review Isi Buku Filosofi teras tersebut, supaya dapat orang lain baca lantaran Review ini, kendatinya dalam Review ini masih dibilang sangat tidak sempurna paling tidak 25% mewakili isi buku ini.
Saya tidak memposisikan diri sebagai pereview dari buku ini, karena saya tahu saya tidak cukup kompeten untuk mereview sebuah tulisan yang maha luar biasa ini. Saya hanya akan mencoba menuangkan beberapa poin yang paling berpengaruh bagi saya setelah bergaul dengan buku ini. Tidak ada niatan sedikit pun untuk memamerkan apa yang telah saya pelajari dari buku ini, karena buku ini pun mengingatkan saya untuk hal demikian.
1. Dikotomi Kendali
Membicarakan Kebahagian, tentu ini harapan setiap orang, dengan cara dan upaya yang berbeda - beda. namun kenapa masih ada orang yang merasa tidak Bahagia, dimana yang salah?
Buku yang ditulis oleh penulis bernama Hendry Manampiring ini barangkali dapat membuka pemikiran pembaca sehingga menjadi terangnya cakrawala kebahagiaan kedepannya bahwa kebahagian erat kaitannya dengan kemampuan kita untuk memegang kendali terhadap perasaan itu sendiri. Artinya apa? Kitalah yang mempunyai peran untuk membuat diri kita bahagia. Jika kita ingin bahagia, maka fokuslah kepada hal yang ada di bawah kendali kita karena hal itu diproses oleh diri kita sendiri.
Dalam buku tersebut telah diberi contoh sangat Jelas bahwa dalam memperoleh kebahagian kita hanya perlu mengelolah dengan baik hal-hal yang telah dikategorikan masuk dalam “kendali kita”. Setelah kita mengetahui apa saja yang berada di bawah kendali kita, selanjutnya kita juga perlu menyadari bahwa ada beberapa hal yang tidak berada di bawah kendali kita.
jadi bisa dipatikan bahwa apa yang di luar kendali kita jangan terlalu diperhatikan karena hal itu hanya membuang waktu dan tenaga saja.
Dalam buku ini dengan jelas menuangkan bahwa tindakan orang lain, opini orang lain, reputasi/popularitas kita, kesehatan kita, kekayaan kita, kondisi kita saat lahir (jenis kelamin, orang tua, saudara-saudara, etnis, suku, kebangsaan, warna kulit, dll), serta segala sesuatu di luar pikiran dan tindakan kita, itu semua merupakan hal-hal yang berada tidak di bawah kendali kita. dalam bahasa anak jaman sekarang kita harus Bodo Amat !.
apa hubungannya dengan kebahagian?. begini sahabat, jika ada sesuatu yang tidak menyenangkan dan hal itu masuk dalam kategori tidak berada di bawah kendali kita, maka sebaiknya kita abaikan saja, karena toh hal itu tidak akan pernah bisa kita ubah.
Kita tidak akan pernah bisa merubah opini orang lain terhadap kita, kita tidak akan pernah bisa menentukan bagaimana sebaiknya orang lain berperilaku kepada kita. Harta kita bisa hilang setiap saat, kondisi kesehatan kita bisa terganggu kapan pun. Benar, kan?
Intinya adalah berhenti untuk mengharapkan segala sesuatu berjalan sesuai dengan keinginan kita karena akan ada banyak hal yang terjadi di luar keinginan kita dan jelas itu juga di luar kendali kita. Terima dengan ikhlas lalu kita akan berhenti merasa gelisah.
Itu aja dulu yaah... Saya Tahu Anda Males Baca hasil tulisan saya !
Kalau enggak,,,, Ok tunggu saja Review selanjutnya

Tidak ada komentar:
Posting Komentar