Senin, 20 September 2021

Selamat Ulang Tahun


Selamat Ulang Tahun

Kasih, selamat menjejaki tangga yang kian menipis menjadi sanggah dalam hidup itu. Jangan takut, aku akan memegang erat jemari kecilmu yang kian kasar dimakan waktu. Hidup barangkali semakin reot dimakan pikiran, belum lagi ditambah ucapan orang-orang sekitar yang semakin membatu. Tapi tenanglah, kau adalah dirimu dalam semestamu. Kau hanya perlu berdiri dan menjajaki kepala mereka dengan atau tanpa tahu. 

Kasih, namamu adalah manis yang tidak diselimuti rasa. Ia hanya sebuah kata yang tersemat tanpa aroma, namun barangkali perkara dirimu adalah hal yang membuatnya berbuah. Ia berbuah kasih dari orang-orang yang menyayangimu tanpa kalimat tanya. Kau dengan namamu, serta hidup yang menjadikannya makna.

Kasih, barangkali obrolan kita tak lagi sama seperti dahulu. Tidak lagi bergema seperti remaja yang cintanya bertemu dalam malu. Tidak, kasih, percakapan kita tak lagi seperti masa-masa itu. Bahan yang mulai menipis, kata yang tak kasat mata, jangka waktu yang berlalu, dan masa yang bertambah sebagai penentu. Tetapi, kasih, kau tetaplah gadis yang dahulu aku cintai dengan mimpi yang sama di setiap malamnya. Kau tetaplah gadis yang selalu hadir dalam pekat gelap, hadir ketika purnama meramu dalam sekat-sekat bintang yang mengerumuninya. 

Kasih, serta mulia dalam ketidak abadian. Tak apa, meski begitu, umur ini adalah belu-belai yang paling tidak bisa kita nikmati dengan masa singkat di antara masa yang mengabu. Aku akan tetap berada di sisimu dalam kebaikan. Aku akan menjelma panggung, menurutimu agar degup harap itu berdetak dalam keniscayaan.

Kasih, aku mencintaimu bagai cemara yang tumbuh di tengah hujan berkalih kemarau. Panas meracik luka, air mata yang mengiris perut, kata-kata yang menebang akar rumput di sekitarnya. Cemara tersebut kian cemas. Angin menjadi musuhnya, matahari adalah petaka, sedang air mengejeknya. Cemara tumbuh di antara cemooh, tapi ia menyayangi sekitarnya. Ia mencintai dedaunan yang tumbuh melekatnya, walau di musim gugur ia jatuh, ia kembali dengan senyum yang sama. Kau adalah dedaunan yang jatuh itu. 

Kasih, kepada yang Maha Esa namamu kusebut dalam kebaikan yang ada. Namamu adalah harap yang kupinta dalam setiap laju langkah. Di tempat ibadah, di rumah, di perpua, bahkan di sepanjang jalan menuju rumahmu dan tuhan. Aku mendoamu, dalam tabah yang tidak hadir dalam kata, dalam hening yang tak terpatri di kening.

Kasih, anganku adalah memelukmu dalam hidup. Menemanimu disaat umur kian bertambah tua, mendengarkanmu tanpa perlu mengindahkan kawula. Aku ingin menelusuri jalanan dengan pelukmu dan celoteh soal banyak peristiwa. Tentang paus yang meramal cinta, pesawat yang membawa damai, mobil-mobil berserak sedih, serta motor yang membelah hutan pinus. 

Kasih, meski hujan tak merintikmu ramai, debu pasir tersapu jejak kaki musafir, aku akan membisikkan sisa-sisa obrolan di lain hari, obrolan yang kita tanam saban hari di dekat pohon mata sembari menikmati langit luar ditelan malam hari. Aku akan menghujanimu dengan tanya agar kau tak padam, aku akan menyekap sisa jejak telapak kaki untukmu bergesa abadi. 

Kasih, aku kirimkan salam melalui semesta Hatimu. Yang tercampur debu dan keringat, tertanam emosi meledak tawa. Bau Kalani yang masih tersisa di sprei boleh juga kau anggap, ia adalah semesta barumu yang menggemaskan, aku memikirkannya sembari menuding matahari. Aku sampaikan pada semestamu itu, aku memintanya agar kau menghela depan bersandar masa. 

Kasih, seperti halnya puisi Sapardi. Dalam doaku. Kau adalah puisi yang bernafas itu, puisi yang mengusut di tangan dalam masa semu, yang terpanggil di ruang tunggu. Aku membacanya dengan menyebut nama Tuhan, yang memberi cinta lewat mata dan telinga, juga hati untuk raba dan terka. 

"Dalam doa subuhku ini kau menjelma langit yang

semalaman tak memejamkan mata, yang meluas bening

siap menerima cahaya pertama, yang melengkung hening

karena akan menerima suara-suara


Ketika matahari mengambang diatas kepala,

dalam doaku kau menjelma pucuk pucuk cemara yang

hijau senantiasa, yang tak henti-hentinya

mengajukan pertanyaan muskil kepada angin

yang mendesau entah dari mana


Dalam doaku sore ini kau menjelma seekor burung

gereja yang mengibas-ibaskan bulunya dalam gerimis,

yang hinggap di ranting dan menggugurkan bulu-bulu

bunga jambu, yang tiba tiba gelisah dan

terbang lalu hinggap di dahan mangga itu


Maghrib ini dalam doaku kau menjelma angin yang

turun sangat perlahan dari nun disana, bersijingkat

di jalan dan menyentuh-nyentuhkan pipi dan bibirnya

di rambut, dahi, dan bulu-bulu mataku


Dalam doa malamku kau menjelma denyut jantungku,

yang dengan sabar bersitahan terhadap rasa sakit

yang entah batasnya, yang setia mengusut rahasia

demi rahasia, yang tak putus-putusnya bernyanyi

bagi kehidupanku."


Kasih, selamat ulang tahun. "Aku mencintaimu, itu sebabnya aku takkan pernah selesai mendoakan keselamatanmu." 

Rabu, 28 April 2021

Mengenang kembali filsafat Islam


Di Abad 21, filsafat Islam kini kurang mendapat perhatian. Filsafat Islam tidak memiliki ruang belajar sendiri. Faktanya, hal itu mungkin hampir dilupakan. Tidak hanya itu, di perguruan tinggi Islam, filsafat Islam cenderung menjadi mata pelajaran pelengkap.

Apakah Filsafat Islam itu? Pertanyaan ini tidak mudah dijawab. Awalnya, penamaan filsafat Islam menimbulkan kontroversi. Ada yang tidak setuju bahwa filsafat disandingkan dengan Islam. Sehingga terdapat variasi nama, diantaranya: Filsafat Muslim, Filsafat Arab, dan Filsafat dalam Dunia Islam.

Tentu saja, berbagai nama itu memiliki sejarah, argumentasi, dan dasar masing-masing. Akan tetapi, menurut literatur filosofis, filosofi Islam tidak hanya cocok dengan filosofi islami.

Banyak cendekiawan Islam yang menyatakan bahwa filsafat Islam merupakan kekayaan intelektual yang ada di dunia Islam, baik filsuf muslim maupun non muslim. Karakter filsafat Islam adalah teosentris (ketuhanan). Selain itu, sumber-sumber filsafat Islam juga diperoleh dari terjemahan buku-buku Yunani, Romawi, Persia, India, dan lainnya.

Berdasarkan sumbernya, ada anggapan bahwa filsafat Islam adalah tiruan filsafat Yunani. sepemahaman saya pribadi hal ini tidak bijak, karena banyak tema baru dalam filsafat Islam. Dimana tema-tema itu tidak ada dalam filsafat Yunani.

Misalnya tema nubuatan, mukjizat, eskatologi dan sebagainya. Keajaiban seperti isra mikraj sering dianggap mitos. Namun, justru inilah fungsi filsafat Islam. Dia menjelaskan bahwa mukjizat bukan hanya mitos dan kepercayaan. Tetapi dengan argumentasi dan sistematis.

Salah satu isu penting adalah pelarangan filsafat. Banyak kalangan yang menyatakan bahwa filsafat itu haram, sesat, mengganggu aqidah, berbuat ateis dan sebagainya. Mengapa asumsi tersebut sering muncul?

Masyarakat dan para intelektual di masa keemasan Islam (era Abbasiyah) lebih terbuka terhadap ilmu pengetahuan. Secara kronologis, peradaban Islam (Abbasiyah) menjadi pusat peradaban dunia karena faktor intelektual.

Terjemahan buku-buku Yunani-Hellenis ke dalam bahasa Arab menjadi bukti bahwa masyarakat era Abbasiyah terbuka terhadap produk luar. Bahkan pemerintahan era Abbasiyah mendirikan Baitul Hikmah.

Baitul hikmah merupakan perpustakaan, pusat studi, dan juga terjemahan buku-buku asing. Terjemahan buku-buku Yunani melahirkan keilmuan baru, dari fisika, astronomi, kedokteran, etika, politik, dan lain sebagainya.

Ternyata, ini berbeda dengan milenial sekarang. Generasi milenial sekarang (meski tidak semuanya) seringkali tidak menikmatinya. Seolah-olah bukan dari wahyu dan kitab suci, maka itu sesat. Dengan kata lain "kitab suci adalah ya - filsafat tidak".

Dengan terjemahan ini, Islam pada masa itu berkembang dan maju. Inilah yang harus dicontoh di abad 21 ini. Sikap terbuka, memilah dan memilih. Dalam artian, faktor keterbukaan merupakan kunci utama pembelajaran filosofi.

Salah satu keunikan lain dari filsafat Islam adalah epistemologinya. Jika di Barat sarana memperoleh ilmu terbatas pada Rasio, maka dalam filsafat Islam melibatkan hati (intuisi). Ada tiga aliran utama epistemologi dalam Islam.

Pertama, epistemologi paripatetik, yang mendasarkan prinsipnya pada silogisme yang sangat rasional (Aristotelian). Hal ini dapat dipelajari dari Ibnu Sina yang tidak akan membahas suatu masalah yang tidak terbukti secara rasional. Aliran ini berpendapat bahwa pengetahuan manusia dapat diperoleh melalui kekuatan indera, imajinasi, nalar, dan berpikir.

Kedua, aliran iluminasi, yang menyatakan bahwa pengetahuan sejati tidak hanya dari pembuktian rasional, tetapi pada proses intuitif. Genre ini pernah populer oleh Suhrawardi al-Maqtul.

Pada dasarnya, pengalaman mistik harus dikerjakan melalui bukti-bukti rasional. Dalam arti menggabungkan cara nalar dengan intusi, saling melengkapi dan mendukung. Karena akal tanpa intuisi tidak akan mencapai transendensi kebenaran, sedangkan intuisi tanpa didukung oleh proses penalaran bisa menjadi salah arah.

Ketiga, epistemologi Mulla Sadra yang merupakan grand synthesis dari aliran-aliran sebelumnya. Padahal, tidak hanya berdasarkan nalar dan intuisi, tapi dipadukan dengan syariat.

Berawal dari pengalaman intuitif, kemudian dicari dukungan rasional, kemudian disesuaikan dengan syariat. Atau dimulai dari pemikiran, kemudian hidup dengan pengalaman intuitif dan mencari dukungan dari syariat. Dan bisa juga dimulai dari syariat, kemudian dirasionalisasi, dan dipertajam dengan pengalaman intuitif.

Berdasarkan metode burhani dan irfani dalam epistemologi Islam, ilmu dibedakan menjadi dua, yaitu ilmu Hushuli dan Hudluri. Ilmu Hushuli adalah ilmu yang diperoleh melalui metode Burhani dengan realitas alam, sosial, dan manusia.

Ilmu Hushuli bersifat deskriptif, seperti pelajaran yang dipetik dari sekolah dasar dan seterusnya. Proses dan prosedur meliputi abstraksi, analitis, serta kritis.

Perlu ditekankan bahwa metode burhani adalah upaya berpikir secara konseptual. Dalam arti membaca dari faktual ke konseptual. Tentu butuh latihan, dengan membuat argumen yang diklarifikasi dengan konsep, dan dikritisi.

Ini unik, karena metode burhani kompatibel dengan epistemologi Barat. Selain itu, yang membedakan metode Burhan dengan metode lainnya adalah keyakinannya pada kausalitas, ada sebab dan akibat.

Selanjutnya, ilmu Hudluri, atau dalam istilah sufi bisa disebut al Ru'yah al Mubasyirah. Nama lain disebut ilmu laduni, ilmu kasyaf, dan dalam kajian ilmiah disebut dengan pengalaman langsung, yaitu ilmu yang hadir secara langsung dalam diri seseorang tanpa melalui proses burhan.

Pengetahuan Hudluri tidak dapat dijelaskan secara deskriptif, tetapi secara intuitif melalui metode Irfani. Contoh sederhana termasuk rasa, seperti pedas atau cinta. Yang bisa dijelaskan hanyalah manifestasinya. Misalnya pedas bisa digambarkan dengan bibir panas, tapi rasa pedas itu sendiri hanya bisa dideskripsikan oleh orang yang mengalaminya.

Cara memperoleh ilmu hudluri tidak seperti ilmu hushuli, yaitu tidak deskriptif. Tetapi dengan lebih dekat dengan Tuhan, membersihkan hati. Menarik jika kita merefleksikan bagaimana nalar berperan dalam irfan. Setidaknya dapat dikatakan bahwa peran nalar ibarat ember yang siap menampung ilmu pengetahuan tanpa metode burhani.

Berbicara dari latar belakang, perkembangan, dan epistemologi. Filsafat Islam adalah filsafat yang unik dan keren. Filsafat Islam menurut literatur merupakan jembatan antara Filsafat Skolastik dan Modern. Jika direnungkan, filsafat Islam menyumbangkan berbagai gagasan dan konsep yang mempengaruhi peradaban dunia. Inilah yang perlu kita gali lebih dalam. Karena meskipun ilmu itu penting untuk dipraktekkan, ia juga perlu menemukan makna filosofisnya. Semoga bermanfaat.

Selasa, 06 April 2021

Cerita Hujan di zaman purba


Seorang Mahasiswa gak ada otak, Begitu panggilan akrab Rekan - Rekannya. Ia duduk termangu - mangu Di sebuah teras Cafee sambil menunggu kehendak tuhan meredakan Hujan, ia ingin berangkat mencari dirinya sendiri. Dasar gak ada otak..!

Ia nampaknya serius kebangetan! Terlihat sedang mencatat sesuatu pada secarik kertas.

Lima menit kemudian ia berlalu lalang karena atas kehendak tuhan yang ia tunggu, Namun Saya amati, ia sengaja menaruh sesuatu yang ia catat tadi di tempat ia duduk.

"Nenek moyang kita gagal, Beliau yang terlahir bodoh, Dengan rasio dan indra beliau pengetahuannya bertambah secara teratur, sehingga kemudian para beliau banyak menciptakan Teknologi seperti yang kita gunakan paling tidak seperti telepon Seluler.

Beliau sukses menciptakan segala sesuatu pun tidak melupakan Estetiknya, namun kita enggan mencari Sisi Estetik dari segala yang mereka kembangkan, yang akhirnya kini justru mendistorsi Rasional kita sendiri secara otentik, Bahkan Seironis Kata TUHAN Telah Mati !"

Dasar,,,, Ternyata Ia benar - benar gak ada Otak karena ia adalah Otak itu sendiri..!

Jumat, 02 April 2021

Sunyi : Kebijaksanaan dan keajaiban

Sunyi, adalah Yang paling mengerti segala yang bersembunyi di sunyi.

Bersama sunyi, Kekosongan ini Berisi

Berisi imajinasi Yang kurangkai sendiri

Tapi sayang, Dengan Aktor yang tak dikenal.

Sekian.!

Masih Adakah Impian

Di balik celah Jendela
Hitam mata mengiringi Bunga Berguguran dari tangkainya
Detakan nafas Kelelahan
memaksa Sinis dan asa berdamai
Kutemui Secarik Daun Bertuliskan Bait terbakar semburat
Yang Abadi tiada bisa terbaca
Entah mengapa Hingga tak dapat kembali pejamkan mata
Sementara Tabir perjalanan membeku jadi butir kosong
Akh.. Aku tak bisa lagi menjadi aktor dalam imajinasi yang kurangkai sendiri !
Barang kali masih bisa
Aku berjalan hingga akhir yang diinginkannya
Atau Paling tidak, ada ternak liar menemani lelapku 


Rabu, 03 Maret 2021

SADAR AKAN KONSEKUENSI KENIKMATAN

SADAR AKAN KONSEKUENSI KENIKMATAN


Tatkala  mengamati cita – cita manusia di dunia untuk mencapai kebahagiaan. Ada beragam cara manusia untuk meraihnya. Terlebih dalam merefleksi secara dialogal era Globalisai di Abad 21 nampak jelas memiliki pengaruh yang luar biasa. Dengannya, kita banyak menyita waktu dengan media informasi yang kita miliki, baik dari kalangan pelajar perguruan tinggi, siswa atau siswi bahkan para guru – guru di berbagai sekolah swasta maupun negeri.

Disisi lain kita hidup dikelilingi berbagai alat teknologi mutakhir. Meski sudah disajikan dengan perlengkapan modern akan kebutuhan dan keinginan manusia. sepertinya kita masih mencari sesuatu. Ada sesuatu yang belum atau memang kita tak tahu menuju jalannya. Tentang  satu hal yang tidak jauh dari ritual meraih kebahagiaan yang sedang kita jalani.

Oleh sebabnya, upaya apa untuk meraih kebahagiaan dan varian kebahagiaan macam apa yang sebenarnya manusia kejar?. Jika kebahagiaan kita hanya cukup dengan sekedar makan dan minum, maka setelah perut kenyang tak menjamin kebahagiaan itu diperoleh, atau dengan jejaring “media sosial”. Media sosial yang saya maksud disini yang mengacu pada hal – hal yang kita anggap membahagiakan, padahal sifatnya sementara karena cenderung bergantung pada hal – hal yang diluar diri kita. Maka itupun juga tak menjadi imun kebahagiaan kita sungguh-sungguh diperoleh. 

Pembahasan diatas, jelas ada perbedaan warna dalam sesuatu yang oleh manusia sekarang sukar membedakannya. Yaitu berkenaan dengan kenikmatan dan kebahagiaan. Buramnya pemahaman  antara keduanya, tidak berbarti salah. Hanya butuh penyadaran bahwa pada dasarnya kenikmatan akan mendorong pada kebahagiaan apabila dibarengi dengan refleksi rasional. Sebaliknya kenikmatan tanpa refleksi rasional, maka bisa berujung petaka terancamnya kesehatan fisik bahkan batin kita. Seperti misal,  makan tetapi refleksi rasional kita tidak bekerja. Refleksi ini berarti kita di ajak memikirkan sejenak sebelum memakan, tentang milik siapa dan bersih tidaknya makanan itu. Jika tidak, akan berkonsekwensi terhadap kesehatan kita.

Di dalam diri kita upaya mencapai kebahagiaan tertinggi perlu kiranya kita memikirkan hidup kita secara serius baik hubungan secara horizontal maupun vertical. Tuhan, manusia dan makhluk hidup lainnya sekaligus. Untuk itu, langkah pertama kita harus menyadari sifat keinginan yang dominan dalam diri kita. Tentang pembahasan ini, seorang filsuf Yunani, Plato, menulis kategori jiwa ke dalam tiga bagian. Yaitu,  Epithumia, Thumos, dan Logostikon.

Menurut Plato, di dalam kategori jiwa memiliki kenikmatannya masing – masing. Kenikmatan Epithumia seperti makan, minum, dan seks atau sosmed. Kenikmatan Thumos seperti nama besar dan kehormatan, citra diri, Logostikon seperti memiliki pemahaman terhadap pengetahuan sejati. Maka jelas sekali selain kenikmatan Logostikon sifatnya sesaat belaka.

Penjelasan singkat seperti diatas, perlunya kita menyadari konsekuensi terkait upaya kita mencapai kebahagiaan hakiki.  Menikmati untuk memperoleh kebahagiaan. dengan kata lain, kebahagiaan diperoleh bukan lantaran kenikmatan sesaat. Wasalam.



Vaksin Penyakit Mental Masa Kini

Vaksin Penyakit Mental Masa Kini


D

unia kedatangan wabah penyakit dan bencana yang bertubi – tubi, tidak harus terlalu jauh kita menatap masa silam. Di tahun 2021 yang berusia 2 bulan ini Banyak hal – hal di luar diri kita mengundang rasa cemas dalam diri kita,

Mayoritas orang – orang dimasa sekarang cemas disebabkan hadirnya bencana alam di berbagai daerah, seperti peristiwa jatuhnya pesawat Sriwijaya Air SJ 182 di pulau Seribu pada 9 Januari 2021 lalu.

Lagi - lagi peristiwa dahsyat yang terjadi datang bergantian menyambut tahun 21 ini antara lain;  longsor di Sumedang, Jawa Barat, Banjir di Kalimantan Selatan, Gempa di Sumatera Barat, Banjir serta tanah longor di Sulawesi Selatan, Erupsi gunung Semeru dan Gunung merapi.

Memang pada hakikatnya bencana alam merupakan fitrah alam itu sendiri, kendati demikian soal ulah kita yang tanpa pertimbangan secara serius tentang perilaku kita terhadap alam belum kita laksanakan, oleh sebab itu penggundulan hutan, penebangan pohon secara besar-besaran,  dan sebagainya, masih diperlakukan oleh kita.

Terlepas dari penyebab atas terjadinya bencana tersebut, fenomena alam merupakan bentuk keniscayaan bagi hamba-Nya yang hidup berdampingan dengan alam. Dengannya kita mesti memerlukan kesiapan mental kita untuk menjaga suasana hati kita dari pengaruh luar diri kita. Sehingga kita seolah – olah tidak peka terhadap peristiwa yang terjadi di luar kendali kita. Cara pandang semacam ini saya dapatkan dari para filosof di Zaman Stoa. Beliau memberi kita gambaran untuk menjaga Psikis kita.

Stoicisme adalah ideologi yang diciptakan oleh seorang filsuf bernama Zeno yang berasal dari Citium pada awal abad ke-3. Dari pemikiran Zeno, ada tokoh-tokoh hebat yang menganut filosofi ini. Penganut filosofi ini tidak hanya terbatas pada sebagian orang, bahkan para budak, orang awam sampai kaisar Romawi. Tokoh-tokoh ini berisi kaisar Marcus Aurelius, Epictetus dan Seneca. (Baca-Filosofi Teras).

Setidaknya kita simak Narasi Stoicisme berikut ini ;

Pertama, Filsafat Stoa percaya pada keberadaan kata dan itu adalah sesuatu yang lebih tinggi dari kita, ya Tuhan. Segala sesuatu yang terjadi di alam semesta memiliki sistemnya sendiri. Untuk ketabahan, jika kita ingin hidup bahagia, kita harus selaras dengan alam.

Ada kekuatan besar di balik semua yang mengaturnya. Jika kita tidak berbuat baik kepada alam, maka tidak heran alam akan memberikan hal yang sama kepada kita, dengan kata lain Karma. Dengan memahami hal ini paling tidak ketika kita berhadapan dengan bencana atau kesulitan, kita memahami bahwa semua ini adalah sebab dan akibat dari tingkah laku kita Terhadap alam, agar kita tidak mudah merasa cemas, terhadap fenomena yang terjadi.

Kedua. Petakan antara dalam diri dan diluar diri. Dalam ajaran Stoisisme Istilah ini dinamakan Dikotomi kendali, Menurut Epictetus yang dikutip oleh Ryan Holiday dan Stephen Hansleman dalam Buku The Daily Stoic menyatakan “kenali kendali diri kita dan kendai di luar diri kita”

“ Ada hal – hal di bawah kendali kita, ada Hal – hal di luar kendali kita” demikian Kata Epictetus, Hal ini penting bagi kita apabila peristiwa mengguncang psikis kita, sehingga kita dapat membedakan apa yang penting dan apa yang cukup kita diamkan. Semisal ada peristiwa yang terjadi di luar diri kita namun merubah perasaan kita; cemas, sakit hati, dll. Jika demikian yang perlu kita kendalikan adalah Respon Emosi kita terhadap peristiwa yang terjadi di luar kendali kita, seperti bencana alam itu sendiri dan perkataan orang lain terhadap diri kita tidak mungkin kita dapat mengendalikan sesuai yang kita inginkan.

Ketiga, Tidak ada peristiwa hidup yang bisa kita sebut “ Baik” dan “Buruk” yang ada hanya interpretasi kita terhadap peristiwa. Begitulah Kira – kira menurut Pandangan Stoisisme. Hal ini senada dengan yang di amalkan oleh Henry Manampiring dalam Filosofi Teras. Jadi saya tegaskan sekali lagi bahwa ”Berfikir Buruk Pada sesuatu Adalah Membuatnya Lebih Buruk”.

Keempat, Marcus Aurelius Sang filsuf Stoicisme menerapkan Prinsip Menerima dengan lapang terhadap kenyataan sekalipun menyakitkan.

Mengapa begitu sulit saat hidup dirasa melawan dirimu? Jika memang peristiwa ini datang dari Alam, maka terimalah dengan lapang dada. Jika tidak, maka cari tahulah apa yang harus kamu lakukan. Kerjakan itu, bahkan jika hal itu tidak memberikanmu kemuliaan” – kata Marcus Aurelius.

Sehubungan dengan itu saya mengutip dialog Filsuf muslim dalam Mastnawi  karya Jalaluddin Rumi. suatu ketika datang seorang hamba yang hidupnya menderita, ia berdoa supaya keluar dari penderitaannya, namun kemudian hari ia mengeluh sebab Doanya tidak terkabulkan. Kemudian sang Rumi menjawab “Mana tahu Tuhan Lebih Suka Tangisanmu daripada kegembiraanmu”.

Kendati demikian, Opini dalam diri manusia berbeda – beda akan tetapi yang terpenting adalah jika datang dari alam maka terima itu dengan lapang. Karena hanya dengan rela menerima jiwa kita akan lebih baik daripada menolak sebuah kenyataan. Namun, jika itu atas kesalahan kita maka cari tahu dan perbaiki sebisa mungkin apa yang dapat diperbaiki oleh kita.

ETIKA, Sebuah Resensi buku K. Bertens


 

Prof. Dr. K. Bertens lahir di Tilburg, Nederland pada tahun 1938. Ilmu itu fokusnya adalah filsafat dan teologi di sebuah universitas di Belanda, lalu filsafat dan psikologi di Universitas Leuven, Belgia. Berten mengajar untuk dua tahun di Belanda, setelah itu pada tahun 1968 Bertens berhasil selesaikan Disertasinya tentang Nicolas Malebranche, filsuf Prancis abad ke-17 Bertens berhasil mendapatkan gelar "doktor filsafat" di Universitas Leuven. Bertens sejak 1968 mengajar filsafat sistematika dan sejarah filsafat di berbagai perguruan tinggi di Indonesia sejak 1983 Bertens juga bekerja sebagai staf di Pusat Pengembangan Etika, Universitas Atma Jaya Jakarta, dan pernah menjabat sebagai direktur Universitas Atma Jaya (1984-1995). Selain itu Bertens juga mengajarkan dan memperdalam ilmu etika terapan, khususnya etika bisnis dan etika biomedis, serta mereduksi “Rangkaian Etika Biomedis”. Dia membantu mendirikan “Himpunan Dosen Etik Indonesia” (HIDESI) dan menjadi ketua pertamanya pada tahun 1990 hingga 1997.

Etika sangat dikenal dan dijadikan acuan di berbagai perguruan tinggi di Indonesia terutama pada dekade 1990-an. Etika sangat bermasalah dalam hal dilema moral berkembang pesat saat ini, masalah moral hadir karena masalah baru lahir dari perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sangat maju saat ini, Sebagai efek dari perkembangan ini, tentunya manusia akan terpapar berbagai perilaku moral.

Buku ini terbagi menjadi beberapa bagian yang diawali dengan pengenalan isinya ada bab 1 membahas etika diikuti oleh bagian I tentang tema etika umum yang terdiri dari bab 2, bab 3, bab 4, bab 5 dan bab 6 yaitu tentang hati nurani, kebebasan dan tanggung jawab, nilai dan norma, hak dan kewajiban serta menjadi manusia yang bagus. Kemudian dilanjutkan ke bagian II dengan tema teori etika dalam isinya ada bab 7 dengan tema sistem filsafat moral. Bagian III dengan tema pengantar etika diterapkan yang merupakan bagian terakhir dari buku ini yang mana ada bab 8 dengan tema masalah etika terapan dan tantangannya untuk zaman kita.

Dalam buku ini, Prof. Bertens mengajak pembaca untuk menjelajahi seluruh wilayah etika. Pertama, topik klasik seperti hati nurani, kebebasan, tanggung jawab, nilai, norma, hak, tugas dan kebajikan. Kemudian beberapa teori dasar dibahas sejarah filsafat moral: hedonisme, eudemonisme, utilitarianisme dan deontologi.

Pada bab pertama sebagai pengantar buku ini, Bertens menjelaskan berbagai batasan. Tentu saja memahami etika, moralitas, amoralitas dan imoralitas, etika dan etiket. Dengan hal ini memberi pembaca kepemahaman yang komprehensif tentang etika Pengetahuan tentang batas lebih mudah dipahami oleh pembaca pada Tema bab selanjutnya.

Namun jika ada kritik lebih lanjut, pembaca tidak akan menemukan konsep apapun tentang akhlak yang didapat dari kajian para filosof Islam akan terasa kurang lengkap khususnya bagi pembaca yang memiliki wawasan luas tentang Islam.

Tema yang dibahas pada bab pertama ini akan melengkapi pemahaman pembaca saat pembaca membaca bab kedua. Dalam bab kedua ini Bertens menjelaskan tentang hati nurani dengan berbagai variasi dilengkapi dengan contoh-contoh hal demikian itu menggambarkan kesatuan hati nurani yang lengkap. Dalam perspektif Bertens membuat analogi antara pemikiran tentang hati nurani dan perkembangan kesadaran moral dengan teori Sigmund Freud dan Kohlberg.

Penjelasan tentang hati nurani yang dijelaskan dalam bab ini sebenarnya tidak bisa digambarkan sebagai konsep hati nurani yang sebenarnya karena pemikiran Bertens hati nurani menggambarkan pemikiran pada jamannya yang belum tentu sesuai dengan esensi yang terjadi saat ini.

Dalam bab ketiga berikutnya Bertens berbicara tentang aktualisasi diri dari kebebasan manusia. Bertens menjelaskan bahwa manusia memiliki ciri anatomi kebebasan individu yang dibatasi oleh tanggung jawab pribadi dan pribadi tanggung jawab sebagai kelompok. Dalam spektrum yang lebih luas dari konsep kebebasan Menurut Bertens, hal tersebut melahirkan dinamika sosial dan politik, termasuk stratifikasi sosial dan administrasi negara, misalnya kebebasan sosial dicontohkan dengan kebebasan orang versus kekuasaan absolut, kemerdekaan versus kolonialisme. Tidak di bab ketiga menemukan aksiologi dari batasan inheren kebebasan dan tanggung jawab agama samawi lainnya.

Pada bab keempat ini Bertens menjelaskan secara kronik konsep nilai dan norma, secara sekilas perbedaan antara konsep nilai dan norma ini sangat tipis. Nilai moral berkaitan dengan pribadi manusia. Nilai moral ini berkaitan dengan pribadi manusia yang bertanggun gjawab. Sebuah nilai moral dapat diejawantahkan dalam perbuatan-perbuatan yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab orang yang bersangkutan, sedangkan Norma moral menentukan apakah perilaku kita baik atau buruk dari sudut etika. Karena itulah, Norma tertinggi yang tidak dapat digantikan oleh norma lain adalah norma moral, norma moral dapat menilai norma lain.

Dalam bab ini pembaca akan mengetahuinya Kejelian penulis buku ini bahwa nilai dan norma sebenarnya adalah sebuah konstruksi perilaku manusia yang kompleks, dimensi nilai dan norma yang begitu kompleks, Hal ini berkaitan erat dengan pandangan psikolog bahwa manusia itu adalah makhluk yang tak terhitung jumlahnya.

Bab kelima Bertens menjelaskan eksistensialisme manusia dalam kedua dimensi tersebut pribadi dan sosial yang menciptakan batasan hak dan kewajiban. Baik adalah klaim yang dibuat oleh orang atau kelompok yang sah dan dapat dibenarkan, Artinya, orang yang berhak bisa menggugat. "Teori koreasi" diadopsi oleh utilitarianisme, menjelaskan bahwa kewajiban setiap orang terkait dengan hak orang lain dan sebaliknya. Hak yang tidak memiliki kewajiban menurutnya tidak pantas disebut "hak". Batasan antara hak dan kewajiban menciptakan hak hak pribadi dan sosial serta kewajiban pribadi dan kewajiban komunal dimana batas-batas tersebut merupakan mata rantai dalam mata rantai pembentukan peradaban manusia yang hidup. keharmonisan di atas asas hukum, baik konvensi, privasi maupun alam universal dan juga hukum yang relatif atau absolut.

Tema dari Bab enam Proposal Bertens adalah menjadi manusia yang baik. Dalam bab ini Bertens sebenarnya menghadapi masalah identitas dan alam Manusia itu. manusia adalah makhluk moral yang bisa melahirkan mimpi perubahan dan peradaban baru yang bisa dicapai jika manusia bisa Menjadi manusia yang baik, sebenarnya itu adalah harapan yang harus dicapai tidak hanya utopia semata.

Bab ketujuh Bertens mendeskripsikan berbagai fenomena moralitas yang terjadi dalam kehidupan yang terjadi dalam kehidupan masyarakat yang tentu saja hal tersebut terbentuk karena adanya pandangan hidup yang berbeda. Pandangan hidup kapitalis akan melahirkan hedonisme maupun bentuk-bentuk pandangan hidup yang melahirkan eudemonisme, utilitarianisme dan deontologi.

Di akhir bab ini, masalah etika terapan dan tantangan bagi mereka dibahas usia kita. Bertens hanya memberikan pengenalan pada etika terapan, artinya etika itu disoroti bidang-bidang tertentu seperti kedokteran, praktik bisnis, lingkungan dll. Pada bagian ini pembaca diajak untuk mengamati dinamika moralitas yang berkelanjutan berkembang dan semakin kompleks seiring dengan pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, khususnya teknologi komunikasi dan informasi. Di sinilah pembaca harus sampai pada kesadaran bahwa hidup tidak lepas dari nilai-nilai, oleh karena itu perilaku manusia yang baik sebagai individu atau kelompok harus bertumpu pada nilai-nilai etika. Kapanpun menghargai etika dan moralitas tidak dapat diaktualisasikan dalam kehidupan manusia terjadi akan melahirkan kemunduran dan ini merupakan tantangan bagi zaman kita.

Bila Mesin Berkuasa, Apalah Daya Manusia?

Sebagai kader Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia yang berupaya berfikir kritis dengan berbagai metode berfikir sesuai konteknya. Seperti C...