Rabu, 03 Maret 2021

ETIKA, Sebuah Resensi buku K. Bertens


 

Prof. Dr. K. Bertens lahir di Tilburg, Nederland pada tahun 1938. Ilmu itu fokusnya adalah filsafat dan teologi di sebuah universitas di Belanda, lalu filsafat dan psikologi di Universitas Leuven, Belgia. Berten mengajar untuk dua tahun di Belanda, setelah itu pada tahun 1968 Bertens berhasil selesaikan Disertasinya tentang Nicolas Malebranche, filsuf Prancis abad ke-17 Bertens berhasil mendapatkan gelar "doktor filsafat" di Universitas Leuven. Bertens sejak 1968 mengajar filsafat sistematika dan sejarah filsafat di berbagai perguruan tinggi di Indonesia sejak 1983 Bertens juga bekerja sebagai staf di Pusat Pengembangan Etika, Universitas Atma Jaya Jakarta, dan pernah menjabat sebagai direktur Universitas Atma Jaya (1984-1995). Selain itu Bertens juga mengajarkan dan memperdalam ilmu etika terapan, khususnya etika bisnis dan etika biomedis, serta mereduksi “Rangkaian Etika Biomedis”. Dia membantu mendirikan “Himpunan Dosen Etik Indonesia” (HIDESI) dan menjadi ketua pertamanya pada tahun 1990 hingga 1997.

Etika sangat dikenal dan dijadikan acuan di berbagai perguruan tinggi di Indonesia terutama pada dekade 1990-an. Etika sangat bermasalah dalam hal dilema moral berkembang pesat saat ini, masalah moral hadir karena masalah baru lahir dari perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sangat maju saat ini, Sebagai efek dari perkembangan ini, tentunya manusia akan terpapar berbagai perilaku moral.

Buku ini terbagi menjadi beberapa bagian yang diawali dengan pengenalan isinya ada bab 1 membahas etika diikuti oleh bagian I tentang tema etika umum yang terdiri dari bab 2, bab 3, bab 4, bab 5 dan bab 6 yaitu tentang hati nurani, kebebasan dan tanggung jawab, nilai dan norma, hak dan kewajiban serta menjadi manusia yang bagus. Kemudian dilanjutkan ke bagian II dengan tema teori etika dalam isinya ada bab 7 dengan tema sistem filsafat moral. Bagian III dengan tema pengantar etika diterapkan yang merupakan bagian terakhir dari buku ini yang mana ada bab 8 dengan tema masalah etika terapan dan tantangannya untuk zaman kita.

Dalam buku ini, Prof. Bertens mengajak pembaca untuk menjelajahi seluruh wilayah etika. Pertama, topik klasik seperti hati nurani, kebebasan, tanggung jawab, nilai, norma, hak, tugas dan kebajikan. Kemudian beberapa teori dasar dibahas sejarah filsafat moral: hedonisme, eudemonisme, utilitarianisme dan deontologi.

Pada bab pertama sebagai pengantar buku ini, Bertens menjelaskan berbagai batasan. Tentu saja memahami etika, moralitas, amoralitas dan imoralitas, etika dan etiket. Dengan hal ini memberi pembaca kepemahaman yang komprehensif tentang etika Pengetahuan tentang batas lebih mudah dipahami oleh pembaca pada Tema bab selanjutnya.

Namun jika ada kritik lebih lanjut, pembaca tidak akan menemukan konsep apapun tentang akhlak yang didapat dari kajian para filosof Islam akan terasa kurang lengkap khususnya bagi pembaca yang memiliki wawasan luas tentang Islam.

Tema yang dibahas pada bab pertama ini akan melengkapi pemahaman pembaca saat pembaca membaca bab kedua. Dalam bab kedua ini Bertens menjelaskan tentang hati nurani dengan berbagai variasi dilengkapi dengan contoh-contoh hal demikian itu menggambarkan kesatuan hati nurani yang lengkap. Dalam perspektif Bertens membuat analogi antara pemikiran tentang hati nurani dan perkembangan kesadaran moral dengan teori Sigmund Freud dan Kohlberg.

Penjelasan tentang hati nurani yang dijelaskan dalam bab ini sebenarnya tidak bisa digambarkan sebagai konsep hati nurani yang sebenarnya karena pemikiran Bertens hati nurani menggambarkan pemikiran pada jamannya yang belum tentu sesuai dengan esensi yang terjadi saat ini.

Dalam bab ketiga berikutnya Bertens berbicara tentang aktualisasi diri dari kebebasan manusia. Bertens menjelaskan bahwa manusia memiliki ciri anatomi kebebasan individu yang dibatasi oleh tanggung jawab pribadi dan pribadi tanggung jawab sebagai kelompok. Dalam spektrum yang lebih luas dari konsep kebebasan Menurut Bertens, hal tersebut melahirkan dinamika sosial dan politik, termasuk stratifikasi sosial dan administrasi negara, misalnya kebebasan sosial dicontohkan dengan kebebasan orang versus kekuasaan absolut, kemerdekaan versus kolonialisme. Tidak di bab ketiga menemukan aksiologi dari batasan inheren kebebasan dan tanggung jawab agama samawi lainnya.

Pada bab keempat ini Bertens menjelaskan secara kronik konsep nilai dan norma, secara sekilas perbedaan antara konsep nilai dan norma ini sangat tipis. Nilai moral berkaitan dengan pribadi manusia. Nilai moral ini berkaitan dengan pribadi manusia yang bertanggun gjawab. Sebuah nilai moral dapat diejawantahkan dalam perbuatan-perbuatan yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab orang yang bersangkutan, sedangkan Norma moral menentukan apakah perilaku kita baik atau buruk dari sudut etika. Karena itulah, Norma tertinggi yang tidak dapat digantikan oleh norma lain adalah norma moral, norma moral dapat menilai norma lain.

Dalam bab ini pembaca akan mengetahuinya Kejelian penulis buku ini bahwa nilai dan norma sebenarnya adalah sebuah konstruksi perilaku manusia yang kompleks, dimensi nilai dan norma yang begitu kompleks, Hal ini berkaitan erat dengan pandangan psikolog bahwa manusia itu adalah makhluk yang tak terhitung jumlahnya.

Bab kelima Bertens menjelaskan eksistensialisme manusia dalam kedua dimensi tersebut pribadi dan sosial yang menciptakan batasan hak dan kewajiban. Baik adalah klaim yang dibuat oleh orang atau kelompok yang sah dan dapat dibenarkan, Artinya, orang yang berhak bisa menggugat. "Teori koreasi" diadopsi oleh utilitarianisme, menjelaskan bahwa kewajiban setiap orang terkait dengan hak orang lain dan sebaliknya. Hak yang tidak memiliki kewajiban menurutnya tidak pantas disebut "hak". Batasan antara hak dan kewajiban menciptakan hak hak pribadi dan sosial serta kewajiban pribadi dan kewajiban komunal dimana batas-batas tersebut merupakan mata rantai dalam mata rantai pembentukan peradaban manusia yang hidup. keharmonisan di atas asas hukum, baik konvensi, privasi maupun alam universal dan juga hukum yang relatif atau absolut.

Tema dari Bab enam Proposal Bertens adalah menjadi manusia yang baik. Dalam bab ini Bertens sebenarnya menghadapi masalah identitas dan alam Manusia itu. manusia adalah makhluk moral yang bisa melahirkan mimpi perubahan dan peradaban baru yang bisa dicapai jika manusia bisa Menjadi manusia yang baik, sebenarnya itu adalah harapan yang harus dicapai tidak hanya utopia semata.

Bab ketujuh Bertens mendeskripsikan berbagai fenomena moralitas yang terjadi dalam kehidupan yang terjadi dalam kehidupan masyarakat yang tentu saja hal tersebut terbentuk karena adanya pandangan hidup yang berbeda. Pandangan hidup kapitalis akan melahirkan hedonisme maupun bentuk-bentuk pandangan hidup yang melahirkan eudemonisme, utilitarianisme dan deontologi.

Di akhir bab ini, masalah etika terapan dan tantangan bagi mereka dibahas usia kita. Bertens hanya memberikan pengenalan pada etika terapan, artinya etika itu disoroti bidang-bidang tertentu seperti kedokteran, praktik bisnis, lingkungan dll. Pada bagian ini pembaca diajak untuk mengamati dinamika moralitas yang berkelanjutan berkembang dan semakin kompleks seiring dengan pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, khususnya teknologi komunikasi dan informasi. Di sinilah pembaca harus sampai pada kesadaran bahwa hidup tidak lepas dari nilai-nilai, oleh karena itu perilaku manusia yang baik sebagai individu atau kelompok harus bertumpu pada nilai-nilai etika. Kapanpun menghargai etika dan moralitas tidak dapat diaktualisasikan dalam kehidupan manusia terjadi akan melahirkan kemunduran dan ini merupakan tantangan bagi zaman kita.

Tidak ada komentar:

Bila Mesin Berkuasa, Apalah Daya Manusia?

Sebagai kader Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia yang berupaya berfikir kritis dengan berbagai metode berfikir sesuai konteknya. Seperti C...